Tulisan dimuat di Harian Medan Bisnis Edisi Senin, 17 Juli 2017  – http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2017/07/17/310626/syarif-bastaman-jangan-abaikan-cacing-tanah/#.WXVozPURWh0.link

Oleh : Syarif Bastaman

Cacing tanah adalah salah satu indikator kesuburan dan kesehatan tanah. Sayangnya, keberadaan hewan yang bermanfaat ini sulit ditemukan akibat penggunaan bahan kimia sintetis yang berlebihan (excessive) di perkebunan kelapa sawit yang membuat rendahnya kandungan C-organik di dalam tanah dan terganggunya ekosistem di dalam tanah.

“Tatkala pupuk urea ditebar, cacing tanah langsung menggelepar-gelepar ke pinggir untuk menyelamatkan diri sampai kemudian mati karena tidak mendapatkan lingkungan yang baik untuk bertahan,” kata Syarif Bastaman, selaku Direktur Riset dan Development PT Mitra Sukses Agrindo.

Dan, penggunaan bahan kimia sintetis dalam bidang pertanian dan perkebunan menurut dia, dimulai sejak tahun 1970-an dan saat itulah mulai terjadi pembantaian cacing tanah.

Padahal cacing tanah adalah sebuah “mesin alami” yang mampu mengalahkan kekuatan mesin konvensional karena cacing tanah tidak pernah berhenti bekerja selama mereka hidup dan tidak pernah kekurangan bahan bakar.

Kandungan bahan organik tanah kata Syarif, sangat berpengaruh terhadap kehidupan cacing tanah. Tanah normal mengandung bahan organik 5%, air (25%), udara tanah (25%),dan mineral (45%).

Bahan organik tanah walaupun persentase terkecil tetapi memiliki peranan sangat penting sebagai pembentuk humus dan sumber energi bagi semua kehidupan yang ada di dalam tanah termasuk kehidupan cacing tanah.

Saluran pencernaan cacing tanah mengandung banyak enzim yang mampu menghancurkan bahan organik sehingga bahan organik mengalami penghalusan dan menghasilkan mineral-mineral.

Dikatakannya, cacing tanah dapat meningkatkan bahan organik tanah, KTK tanah, pH tanah, N-total ,P-tersedia, K-tersedia, Ca dan Mg dapat ditukar. Cacing tanah juga dapat meningkatkan ukuran dan kemantapan agregat tanah.

“Berdasarkan hasil penelitian dengan pemberian pupuk kandang atau kompos terus menerus, populasi cacing tanah bisa meningkat mencapai satu juta ekor per are,” ujarnya.

Bahkan Edward dan Loffty (1992) dalam bukunya, kata Syarif, kandungan P-tersedia pada kompos atau pupuk organik berbasis kotoran cacing tanah tujuh kali lebih tinggi dibandingkan dengan pupuk organik tanpa kotoran cacing tanah (sekresi cacing tanah).

Cacing tanah mampu mengubah tanah menjadi lebih berpori, lebih ringan dan tidak akan mengalami pemadatan. Sedangkan sekresinya (kascing) secara ilmiah terbukti merupakan promotor pertumbuhan yang ajaib (miracle) bagi tanaman dan pelindung tanaman dari hama dan penyakit.

“Jadi, sudah saatnya bagi praktisi perkebunan kelapa sawit untuk memperhatikan ekosistem dalam tanah terutama mengundang kembali cacing tanah, (“Sang Dewa Bumi”) kembali ke lahan perkebunan untuk menyuburkan dan menyehatan tanah sehingga terjadi harmonisasi semua kehidupan dalam tanah baik mikroflora maupun mikrofauna,” kata Syarif.

Hal ini penting, karena maraknya serangan ganoderma, jamur pathogen tular tanah yang menghancurkan kelapa sawit akibat terganggunya ekosistem dalam tanah dan menghilangnya predator alaminya yaitu Trichoderma spp. serta menghilangnya sang pemelihara kesuburan dan kesehatan tanah yaitu cacing.
(edward bangun)