Oleh : Friyandito, SP. MM (Praktisi Diklat Sawit)

Dilema petani sawit pasca lebaran, disaat produksi TBS meningkat, malah harga jual nya menurun drastis. Dari berita di media online harga TBS periode Juni ke Juli sbb :

  • Jambi, dari 1.430 menjadi 800
  • Bangka, dari 1.100 menjadi 900
  • Aceh, dari 1.400 menjadi 900

Di daerah lain kemungkinan besar harga TBS pun sudah dibawah Rp 1.000/kg.

Menjadi pemikiran, sebenarnya berapa harga pokok produksi (HPP) sawit ?

Perhitungan harga pokok produksi sangat dipengaruhi oleh upah minimum regional (UMR).

Misalkan : UMR = Rp 2.500.000 per bulan : 25 hari/ bulan = Rp 100.000/ hari.

 

AKTIVITAS UTAMA DI PERKEBUNAN SAWIT

  1. Panen dan kutib brondolan

Pengupahan pada aktivitas panen ada berbagai macam. Ditulisan ini kita ambil cara paling umum dan paling mudah dianalisa, yaitu system basis panen. Untuk tanaman menghasilkan (TM) utama dengan umur sawit 8 – 15 tahun, basis panennya misalkan 1.400 kg / HK. Maka harga potong buah basis adalah Rp 100.000 : Rp 1.400/kg = Rp 71,4 / kg. Jika pemanen bisa panen 1.600 kg, maka lebih basis sebanyak 200 kg x (Rp 71,4/kg + Rp 5/kg). Angka Rp 5/kg adalah harga potong lebih basis untuk memacu pemanen bersemangat melampaui basisnya dihari itu.

Rata-rata biaya potong buah adalah 1,3x basis = 1,3 x Rp 71,4/kg = Rp 92,8/kg .

 

Harga kutib brondolan tergantung dari kg kemampuan orang  mengutib brondolan dalam satu hari (diasumsikan kutib brondolan terpisah). Tentu saja kemampuan kutib brondol ini sangat dipengaruhi oleh angka kerapatan panen (AKP).

Misalkan pada AKP 1 : 4, jumlah TBS per Ha adalah 34 janjang x BJR 20 kg/jjg = 680 kg.

Brondolan 10% = 680 kg x 10% = 68 kg : 80 gram/butir = 850 butir

850 butir : 34 pokok = 25 butir per pokok.

Kemampuan kutib brondolan adalah 1 : 2 (satu pembrondol untuk 2 pemanen), artinya 1 pembrondol untuk luasan 2 x @2,5 Ha = 5 Ha.

Target kg brondolannya adalah 5 Ha x @ 68 kg/ha = 340 kg.

Maka biaya kutib brondol adalah Rp 100.000/hari : 340 kg/hari = Rp 294,1/kg ~ Rp 294/kg.

 

  1. Biaya Angkutan Panen.

Biaya angkutan panen sangat tergantung dari jarak kebun ke PKS. HPP biaya operasional dumptruk adalah Rp 8.000/km (sudah termasuk gaji supir, solar, oli dan perawatan mobil). Muatan truk rata – rata 6 ton/ritase.

Misalkan jarak kebun ke PKS adalah 20 km, maka HPP biaya truk adalah 20 km x Rp 8.000/km = 160.000/ritase : 6 ton/ritase = Rp 26,7/kg. Itu jika truk milik perusahaan sendiri.

Biaya loading buah tergantung dari kemampuan tenaga loading dan UMR.

Jika basis kemampuan tenaga loading adalah 8 ton per hari, maka perhitungan biaya loading Rp 100.000 : 8.000 kg = Rp 12,5/kg.

 

  1. Biaya Pemupukan.

Biaya pemupukan sangat tergantung jenis pupuk yang digunakan dan harga satuan pupuknya.

  • Jika menggunakan pupuk majemuk semua, kuantiti rata-rata 6 kg/pokok x 136 pokok/ha = 816 kg/ha x @ rata-rata Rp 5.000/kg = 4,08 juta/ha.
  • Biaya aplikasi pupuknya tergantung dosis dan kemampuan orang. Untuk dosis 1 – 2 kg/pokok, rata – rata kemampuan orang adalah 700 kg/hari. Biaya aplikasi pupuk adalah Rp 100.000 / 700 kg = Rp 143/kg x 816 kg/ha = Rp 116.688/ha
  • Biaya angkutan pupuk dengan jarak 10 km dari gudang sentral = 10 km x Rp 8.000/km = 80.000/ritase : 4 ton/ritase = Rp 20,0/kg x x 816 kg/ha = Rp 16.320/ha
  • Biaya loading dan ecer pupuk = Rp 12,5/kg x 816 kg/ha = Rp 10.200/ha

 

Total biaya pemupukan = Rp 4.223.208/ha ~ 4,224.000 juta/ha.

 

  1. Biaya Pengendalian Gulma

Biaya pengendalian gulma sangat tergantung pada sebaran gulma (%), jenis gulma, herbisida yang digunakan dan harga satuan herbisida.

  1. Pengendalian gulma secara total adalah 100% luasan, kemudian dipilah menjadi CPT dan semprot gawangan.
  2. Rotasi semprot rata – rata 3x per tahun.
  3. Dosis semprot blanket adalah 1,5 HK/ha untuk tenaga kerja dan 30 kap/ha untuk material ukuran 15 liter.

Biaya tenaga kerja adalah 1,5 HK/ha x Rp 100.000/HK = Rp 150.000/Ha. Untuk 3 rotasi biayanya menjadi 3 x Rp 150.000/Ha = Rp 450.000/ha.

  1. Biaya material diambil kombinasi paraquat 40 cc/kap, gliposate 60 cc/kap dan surfaktan 10 cc/kap dengan harga satuan berturut turut Rp 50.000/liter, Rp 60.000/liter dan 70.000/liter.

Kebutuhan material = (30 x 40/1000 x 50.000) + (30 x 60/1000 x 60.000) + (30 x 10/1000 x 70.000) = 60.000 + 108.000 + 21.000 = Rp 189.000/ha.

  1. Biaya angkutan air = 30 km/hari x Rp 8.000/km = Rp 240.000/hari untuk luasan kerja 30 Ha = Rp 8.000/Ha.

Total biaya pengendalian gulma = Rp 647.000/ha

 

  1. Biaya perawatan lainnya seperti pruning, garuk piringan, konservasi tanah dan air, rawat infrastruktur dan aktivitas lainnya bervariasi. Untuk perhitungan HPP, dialokasikan biaya Rp 500.000/ha.

 

  1. Disamping biaya operasional, ada biaya umum (general charges) yang meliputi biaya gaji staff, biaya kesehatan, biaya transportasi staff, biaya kantor dan lainnya. Nilainya bervariasi antara 2,5 juta – 3 juta/ha.

 

RESUME BIAYA OPERASIONAL KEBUN

Asumsi produksi TBS adalah 20 ton/ha.

Aktivitas Rp/ha Rp/kg TBS Rp/kg TBS up 10%
Potong buah   92,8 102,1
Kutib brondol 10% kg TBS   29,4 32,3
Angkutan Panen   26,7 29,4
Loading TBS   12,5 13,8
Biaya Panen   161,4 177,6
Pemupukan 4.224.000 211,2 232,3
Pengendalian gulma 647.000 32,4 35,6
Perawatan lainnya 500.000 25,0 27,5
Biaya Perawatan   268,6 295,4
Biaya Umum Site (General Charges) 3.000.000 150,0 165
HPP   580,0 638,0

Nilai up 10% adalah asumsi toleransi biaya HPP karena biaya yang kecil kecil belum dimasukkan seperti angkutan karyawan, THR, premi mandor, selisih harga material dan lainnya.

 

KONDISI ARUS KAS (CASH FLOW) PERUSAHAAN.

Secara HPP, nilai Rp 638/kg ini tentu saja masih ada sedikit margin dibandingkan harga jual TBS dikisaran harga Rp 800 – 900/kg.

Tetapi secara arus kas (cash flow), ada biaya lain yang belum dimasukkan dalam table perhitungan diatas, yaitu biaya investasi (capital expenditure/ capex) dan biaya umum HO (termasuk bunga pinjaman, dividen, penyusutan atau depresiasi asset). Besarannya bervariasi, biasanya berada dikisaran Rp 300 – 500/kg.

Dengan harga jual TBS diangka Rp 1.000/kg, maka arus kas perusahaan bisa positif.

 

Harga TBS Rp 1.000/kg disebut harga psikologis bisnis kebun sawit.

Diatas angka psikologis = ada senyum diwajah Planter, sedangkan dibawah angka psikologis = ada kerutan dikening Planter.

 

STRATEGI OPERASIONAL DISAAT HARGA TBS TURUN

Bicara strategi ini tentunya hal yang tidak meng-enak-kan bagi Planter, dalam arti kata akan ada anggaran (budget) yang dipangkas. Pilihannya berdasarkan prioritas adalah :

  1. Pangkas biaya investasi (capex) yang memungkinkan untuk ditunda pengadaannya.
  2. Pangkas biaya HO dan biaya umum site.
  3. Pangkas biaya perawatan non pupuk.

Salah satunya dengan memperpanjang rotasi perawatan dikebun TM remaja dan TM tua, misalkan dari 3 raotasi/tahun menjadi 2 rotasi/tahun.

  1. Biaya pupuk adalah komponen kedua terakhir yang dikurangi, sebab menjadi fator utama agar produksi tetap stabil dimasa mendatang.
  2. Biaya panen dan biaya angkutan panen adalah komponen terakhir yang dikurangi, sebab berkaitan langsung dengan pendapatan.

 

Dalam perencanaan jangka menengah, manajemen bisa merancang tahapan peralihan berikut :

  • Mekanisasi, peralihan tenaga manusia menjadi tenaga alat yang lebih hemat biaya.
  • Meningkatkan serapan pupuk dengan memperbaiki kondisi tanah, sehingga dosis dapat dikurangi.

Dalam usaha, perhitungan arus kas (cash flow) perusahaan lebih penting daripada perhitungan HPP. Sehingga sewajarnya perhatian Planter lebih dicurahkan untuk mengamankan arus kas perusahaan.

 

Semoga artikel ini bermanfaat bagi Planter.

Untuk konsultasi dan berbagi ilmu sesame Planter dapat menghubungi Best Planter Indonesia (BPI) via WA 0812 1997 193 (Dito) atau email : bpi@bestplanterindonesia.com.

Kami tunggu artikel menarik dari rekan – rekan Planters untuk diposting di www.bestplanterindonesia.com.