BAGAIMANA PIKIRAN BISA MEMPENGARUHI PERASAAN DAN EMOSI

Oleh: Friyandito

Semangat pagi…

Salam Planter Indonesia Hebaaat

 

Ini guyonan yang sering kita dengar, dan bahkan dianggap sebagai sebuah kebenaran.

“PIKIRAN itu adanya di OTAK, sedangkan PERASAAN dan EMOSI itu adanya di HATI” 😁

Ada teman yang nyeletuk lagi, hati itu bukannya organ tubuh untuk menyaring racun? Apa hubungannya dengan perasaan? (Tambah bingung deh) 😆

Belum lagi reflek gerakan tangan memegang dada sebelah kiri Ketika bilang, “sakit hatiku karena ucapannya”. Nah loh, organ hati itu kan posisinya diperut bagian atas sebelah kanan. (makin kacau) 😂

Tema kali ini mengguncang logika kita, “Bagaimana Pikiran Bisa Mempengaruhi Perasaan dan Emosi”.

Kita kluster dulu istilah pikiran ini.

PIKIRAN adalah segala proses yang terjadi pada otak, baik menerima informasi dari panca indera maupun merespon informasi tersebut menjadi kerangka berpikir atau persepsi.

Pertama kita klarifikasi dulu mengenai organ tubuh yang menciptakan perasaan, bukan hati tapi otak. Betul, otaklah yang menciptakan perasaan. Kok bisa?

Bersumber dari artikel di hellosehat.com dengan kata kunci di search engine: “cara kerja otak” diketahui bahwa otak manusia memiliki 3 bagian utama: cerebrum, cerebellum dan batang otak.

Cerebrum terbagi menjadi 4 bagian:

  1. Frontal lobe: bertanggung jawab pada fungsi kognitif dan pengambilan keputusan.
  2. Temporal lobe: bertanggung jawab memproses memori, menggabungkannya dengan sensasi rasa, suara, penglihatan, sentuhan dan emosional.
  3. Parietal lobe: bertanggung jawab memproses informasi tentang suhu, rasa, sentuhan, pergerakan dan orientasi spasial.
  4. Occipital lobe: bertanggung jawab pada penglihatan.

Temporal lobe adalah bagian dari otak – cerebrum yang mengatur perasaan kita.

 

Perasaan adalah mengingat kembali (memori) balasan yand diterima atas suatu tindakan.

Misalkan :

  1. telinga mendengar si A berteriak ke kita, intonasi suara ini disampaikan ke otak.
  2. Otak memberi respon ke telinga, bahwa intonasi suara si A ini lebih tinggi dari biasanya.
  3. Mata melihat gerak tubuh dari si A tadi, gambaran visualnya disampaikan ke otak.
  4. Otak memberi respon, bahwa gerak tubuh si A ini tidak seperti biasanya.
  5. Informasi dari mata dan dari telinga ini disimpan di neuron otak. Sampai tahap ini baru ada penyimpanan informasi.
  6. Si B datang dan bilang ke kita bahwa itu si A sedang marah.
  7. Informasi baru dari si B dikombinasi dengan kejadian point e menghasilkan interpretasi : jika intonasi suara lebih tinggi dari biasanya dan gerak tubuh tidak seperti biasanya, pertanda lagi marah. Sampai tahap ini, muncul satu interpretasi informasi “lagi marah”.
  8. Kita ketemu lagi dengan si A, dan si A melakukan hal yang sama yaitu intonasi suara lebih tinggi dari biasanya dan gerak tubuh tidak seperti biasanya. Otak kita langsung memberikan respon, si A lagi marah. Sampai tahap ini, belum ada muncul perasaan apa – apa.
  9. Interpretasi informasi si A lagi marah, kemudian di croscek dengan keyakinan kita (keyakinan = persepsi + nilai – nilai diri).
    • Jika interpretasi informasi sejalan dengan keyakinan, maka timbul perasaan positif (senang, bahagia dll)
    • Sebaliknya, jika interpretasi informasi bertentangan dengan keyakinan, maka timbul perasaan negative (tidak suka, benci, marah).

 

Kita coba bandingkan 2 hal ini.

Pertama, kita melihat orang lain marah ke temannya. Apakah kita merespon dengan perasaan positif atau perasaan negative atau malah tidak perlu dipikirkan sama sekali 😁

Jawabannya : tidak perlu dipikirkan sama sekali 😁

Kedua, Si A marah pada kita. Apakah kita merespon dengan perasaan positif atau perasaan negative atau malah tidak perlu dipikirkan sama sekali 🤨

Jawabannya : merespon dengan perasaan positif atau perasaan negative (tergantung kenapa dia marah).

Yup, betul sekali, perasaan muncul apabila suatu interpretasi informasi dicroscek dengan keyakinan kita.

Maka tak heran, perasaan kita bisa tetap tentram dan bahagia (beda tipis dengan cuek), walaupun lingkungan disekitar kita sedang amburadul. Syaratnya : “jangan sempat menyinggung keyakinan kita”.

 

PERASAAN DAN EMOSI

Perasaan dan emosi sekilas tampak sama, namun kejadiannya berbeda.

Kita tidak dapat mengetahui isi perasaan seseorang, tapi kita dengan mudah mengetahui seseorang sedang emosi atau bukan, yaitu dari perubahan fisiologis tubuhnya. Misalkan tadi intonasi suaranya lebih tinggi, muka nya memerah, tangannya dikepal, matanya menatap tajam dan lainnya.

Sederhananya, perasaan ada didalam diri kita.

Ketika perasaan ini diekspresikan oleh organ tubuh, disebut emosi.

Jangan pusing, jangan bingung apalagi emosi. Tetaplah tersenyum sesuai dengan fitrahnya, bahwa manusia adalah makhluk yang bahagia. Bayi atau balita selalu bahagia, tidak ada perasaan negatif. Klo pun menangis itu untuk memberitahu ada fungsi organ tubuhnya yang lagi menurun, misalkan perutnya terasa lapar, matanya mengantuk, hidungnya tersumbat dan lainnya.

Luar biasa sekali dan kita patut bersyukur dengan kesempurnaan penciptaan manusia ini oleh Sang Pencipta.

 

Demikian artikel kali ini.

Di artikel selanjutnya, kita akan lanjutkan pembahasannya bagaimana pikiran bisa mempengaruhi Tindakan kita.

 

Salam Perubahan, Salam Pembelajar Sejati….

 

Sekedar info update.

Best Planter Indonesia memiliki program pelatihan online mengenai Model Pembelajaran Manusia, terkait dengan pengelolaan pikiran. Info pelatihannya dapat diakses di link berikut http://bit.ly/ModelPembelajaranManusia.