image_pdfDownload PDFimage_printPrint

MENGUKUR PERSENTASE TEKSTUR TANAH (PASIR, DEBU, LIAT) DAN INTERPRETASI HASIL PENGUKURANNYA

Oleh: Friyandito

Semangat pagi…

Salam Planter Indonesia Hebaaat

 

Sebagai seorang planter lapangan, tentu kita menyukai hal – hal praktis yang langsung bisa dipraktekkan. Mengukur persentase tekstur tanah dapat dilakukan secara mandiri, tidak perlu analisa laboratorium ataupun mendatangkan pakarnya. Kita sendiri dapat melakukannya dalam waktu 1×24 jam.

Alat dan bahan :

  • Botol aqua ukuran 1,5 liter
  • Air sebanyak 0,5 liter
  • Penggaris
  • Spidol permanen
  • Cangkul

Cara Kerja :

  1. Gali tanah dengan cangkul pada kedalaman 0 – 30 cm (bisa diambil sampel ke-2 kedalaman 30 – 60 cm). Ambil sampel tanah seberat +/- 500 gram, bersihkan dari kotoran sampah.
  2. Masukkan tanah ke dalam botol.
  3. Tambahkan air kedalam botol, dan tutup botolnya.
  4. Bolak balik botol sampai tanah tercampur merata dengan air.
  5. Diamkan larutan tanah dan air selama 24 jam


 

  1. Setelah 24 jam akan terbentuk lapisan tanah didalam botol. Lapisan paling bawah = pasir, tengah = debu, paling atas = liat. Tandai setiap lapisan dengan spidol permanen.
  2. Ukur ketinggian masing – masing lapisan dengan penggaris.

Misalkan : pasir 0 – 5 cm (5 cm), debu = 5-8 cm (3 cm) dan liat 8-15 cm (7 cm).

  1. Hitung persentase tekstur tanahnya.
    • Pasir = 5 / (5+3+7) = 5 / 15 = 33%
    • Debu = 3 / 15 = 20%
    • Liat = 7 / 15 = 47%

 

  1. Tentukan jenis tektur tanah menggunakan segitiga tekstur



X = pasir = 33%; Y = liat = 47%, Z = debu = 20% à No. 1 Clay (liat).

 

Pada sampel tanah yang diambil tadi, diketahui jenis tektur tanahnya adalah liat.

Menurut USDA ada 12 klasifikasi tekstur tanah, coba amati persentase pasir – debu – liat untuk masing – masing jenis teksturnya, akan ditemui hal yang menarik.

Percobaan yang sama bisa dilakukan untuk lokasi yang berbeda. Karena administrasi kebun sawit menggunakan satuan terkecil blok, maka bisa saja 1 blok diambil minimal 1 sampel tanah.

 

INTERPRETASI HASIL PENGUKURAN

Setelah mengetahui persentase tektur tanah, kita perlu mengolah data ini menjadi sebuah informasi yang mudah dipahami, yaitu :

  • Aerasi tanah (kandungan udara didalam tanah).

Standarnya : aerasi pasir > aerasi debu > aerasi liat

Tektur tanah dominan liat (47%), maka aerasi tanahnya = kurang

  • Drainase tanah (kemampuan tanah melewatkan air).

Standarnya : drainase pasir > drainase debu > drainase liat

Tekstur tanah dominan liat (47%), maka drainase tanahnya = lambat

  • Kemampuan tanah memegang air (water holding capacity = WHC).

Standarnya : WHC pasir < WHC debu < WHC liat.

Tekstur tanah dominan liat (47%), maka WHC = tinggi.

  • Kapasitas tukar kation (KTK).

Standarnya : KTK pasir < KTK debu < KTK Liat

Tekstur tanah dominan liat (47%), maka KTK = tinggi.

 Dari interpretasi data diatas, bisa kita lihat kekurangan tekstur liat ada di aerasi dan drainase tanah. Inilah yang menjadi fokus kita bagaimana cara menaikkan aerasi tanah dan mempercepat drainase agar tidak terjadi aliran permukaan (run-off).

Alternatif solusinya adalah dengan penggemburan tanah :

  • Secara fisik – mekanis : dengan pencangkulan manual atau penggarpuan tanah dengan tractor.
  • Secara biologis : penggemburan oleh organisme tanah seperti cacing.

Tentusaja untuk bisa memperoleh banyak cacing di tanah perlu memperhatikan ketersediaan habitat cacing, jika perlu dikondisikan habitatnya.

  • Secara alami : penambahan bahan organis pada spot – spot tertentu untuk melapuk menjadi humus yang menjadi perekat yang baik tekstur tanah membentuk agreget yang memiliki cukup pori tanah (makro dan mikro).

Demikian artikel kali ini. Kita akan lanjutkan artikelnya dengan judul Proses Pelapukan Bahan Organik di Tanah.

 

Salam Perubahan, Salam Pembelajar Sejati….

Artikel lainnya bisa diakses di www.bestplanterindonesia.com