Oleh : Friyandito, SP, MM

(Alumnus Jurusan Tanah dan MMA IPB, Praktisi Perkebunan Kelapa Sawit).


  1. KEBUTUHAN HARA TANAMAN SAWIT

Sebagai seorang Planter, pupuk menjadi jantungnya budidaya kelapa sawit. Kebutuhan hara yang banyak untuk menghasilkan Tandan Buah Segar menjadikan aplikasi pemupukan hukumnya wajib setiap tahun.

Pertanyaannya, seberapa besar sebenarnya kebutuhan pupuk bagi tanaman sawit ?

Berpedoman pada Buku Saku PPKS terbitan tahun 2005 materi tentang Pemupukan Kelapa Sawit, terdapat keseimbangan hara untuk produksi tandan buah segar (TBS).

“Setiap Ton TBS yang dihasilkan mengandung hara setara dengan 6,3 kg Urea; 2,1 kg TSP; 7,3 kg KCl dan 4,9 kg Kieserit”.

 

Pupuk Rumus Molekul Kandungan Hara Utama Reaksi kemasaman Konversi ke Unsur
Urea (NH2)2CO 42 – 46% N Sedikit masam 46% N
TSP Ca(H2PO4)

2H2O

44 – 48% P2O5 netral FK = 0,436

= 20% P.

KCl KCl 60-62%K2O dan 47% Cl Netral sampai agak masam FK = 0,830

= 50% K.

Kieserit MgSO4H2O 27%MgO dan 23%S Agak masam FK = 0,603

= 16% Mg.

Misalkan :

  • Produksi kebun = 25 ton/ha/thn.
  • SPH = 136 pokok/ha
  • Produksi per pokok = 25 : 136 = 184 kg/pokok/tahun.

 

Setara dengan :

Pupuk 1000 kg TBS (kg) 184 kg TBS (kg)
Urea 6,3 1,16
TSP 2,1 0,39
KCl 7,3 1,34
Kieserit 4,9 0,90
  20,6 3,79

Wow, ternyata untuk menghasilkan produksi 25 ton/ha/thn hanya dibutuhkan unsur hara (dibaca : pupuk) 3,79 kg saja.

Padahal setiap pohonnya diaplikasi pupuk mencapai 8 kg/pokok/thn. Kemana pupuk yang lainnya ?

 

Sebagian hara dimanfaatkan tanaman untuk pertumbuhan vegetatifnya, yaitu pertumbuhan daun, batang dan akar.

Dari artikel yang ditulis oleh Ong Kim Pin dengan judul “Kulim’s Endeavour Towards Sustainable Palm Oil”, disampaikan kandungan batang dan pelepah sawit yang menjadi biomassa saat peremajaan tanaman, disajikan sebagai berikut :

 

Residu Tanaman Kandungan Hara (Kg/Ha)
N P K Mg
Batang Sawit 219,6 21,2 314,5 52,6
Pelepah 119,8 11,0 109,7 23,3
Total 339,4 32,2 424,2 75,9
         
Kesetaraan Hara Amonium Chloride Rock Phosphate Muriate of Potash Kieseritte
  1.357,6 204,8 848,4 487,5
  21% N 30% P2O5 60% K2O 27% MgO
         
  Urea TSP KCl Kieserit
  46% N 46% P2O5 60% K2O        27% MgO
Per Hektar 619,8 133,6 848,4 487,5
Per Pokok (SPH 136) 4,56 0,98 6,24 3,58

Keterangan : Biomassa ini belum termasuk kandungan hara pada akar tanaman.

 

Jika dijumlahkan hara yang dibutuhkan untuk TBS, batang dan daun pada pokok sawit, maka nilai haranya setara dengan :

Pupuk TBS Batang & Daun Total Aplikasi Pupuk*) Sisanya ?
Urea 1,16 4,56 5,72 3,00 ?
TSP 0,39 0,98 1,37 1,50 ?
KCl 1,34 6,24 7,58 3,50 ?
Kieserit 0,90 3,58 4,48 1,50 ?
  3,79 20,6 19,15 9,50 9,65

Keterangan :

Kondisi ini belum mempertimbangkan losses pupuk karena penguapan, terikat partikel tanah, hilang karena infiltasi, hilang karena aliran permukaan (run-off).

Secara sederhana, ternyata untuk tumbuh kembang tanaman sawit dan untuk produksi yang baik dibutuhkan dukungan media tumbuh (tanah) mencapai 50% kebutuhan hara, tergantung kondisi tanahnya.

 

  1. PROSES YANG TERJADI PADA PUPUK DIDALAM TANAH

Saat aplikasi pupuk, seorang Planters memegang prinsip 4T (Tepat dosis, tepat tempat, tepat waktu dan tepat cara). Dilihat dari hubungannya dengan serapan hara oleh tanaman, hanya Tepat Dosis yang dalam kontrol Planters, sedangkan lainnya masih tergantung pada kondisi tanah dan iklim.

  • Tepat tempat : dipengaruhi oleh kondisi tanah yang ideal untuk pertumbuhan akar rambut (feeding roots).
  • Tepat waktu : dipengaruhi kondisi air dalam tanah atau adanya hujan.
  • Tepat cara : dipengaruhi oleh ukuran butiran dan kemampuan air tanah melarutkan pupuk kedalam larutan tanah.

Begitu besarnya peran tanah untuk pertumbuhan sawit, kenapa kita masih mengabaikannya ?

Karakteristik tanah dalam mensuplai hara bagi tanaman sangat dipengaruhi oleh sifat fisik, kimia, mineralogi dan biologi tanah.

  • Sifat fisik tanah :

warna, struktur, tekstur, berat isi (bulk density), porositas, distribusi pori, kadar air (kelembaban) tanah, daya pegang tanah terhadap air (pF), infiltrasi, permeabilitas, konsistensi, dan temperatur tanah.

  • Sifat kimia tanah :

kandungan bahan organik, kemasaman tanah (pH), kandungan basa (KB), kapasitas tukar kation (KTK).

  • Sifat mineralogi tanah :

bahan induk penyusun tanah, penentu kandungan hara dominan yang terdapat didalam tanah.

  • Sifat biologi tanah :

kandungan organisme tanah berupa mikroba penambat N (Axotobacter, Azospirilium), Pelarut P dan K (Basillus Sp., Aspergilus Sp., Lactobacillus Sp.), perluasan akar tanaman (Mychoriza), anti ganoderma (Trichoderma).

Contoh Pengaruh pH Tanah terhadap ketersediaan hara

Keterangan :

Bagan yang diarsir hijau menunjukkan ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Makin runcing ujung bagan, maka makin berkurang ketersediaan haranya bagi tanaman.

  • Nitrogen (N) : optimal tersedia bagi tanaman pada pH 6,0 – 8,0.
  • Phosphorus (P) : optimal tersedia bagi tanaman pada pH 6,25 – 7,5 dan > 8,75.
  • Potassium (K) : optimal tersedia bagi tanaman pada PH > 6,0

Secara umum, pH ideal agar pupuk bisa diserap tanaman berada pada kisaran 6,5 – 7,5.

Pertanyaannya :

  • Bagaimana caranya agar pH tanah berada di kisaran ideal diatas ?
  • Areal mana yang pH nya harus ideal ? Apakah seluruh areal ?

Kemasaman tanah (pH) hanyalah salah satu sifat tanah yang mempengaruhi ketersediaan hara bagi tanaman. Sifat – sifat lainnya wajib dipelajari dan disesuaikan menuju kondisi ideal untuk ketersediaan hara bagi tanaman.

Reaksi tanah terhadap pupuk yang diaplikasi terbagi atas 4 kondisi, yaitu :

  1. Reaksi Positif; artinya pupuk yang diaplikasi dengan bantuan air diteruskan ke larutan tanah menjadi tersedia untuk diserap akar – akar tanaman.
  2. Reaksi Negatif; artinya pupuk yang diaplikasi larut dengan bantuan air, tapi sebelum diteruskan ke larutan tanah diikat dulu oleh partikel tanah, sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman.
  3. Reaksi substitusi (saling menggantikan); artinya pupuk yang diberikan bereaksi dengan air menjadi bentuk ion, kemudian ion pupuk ini saling bertukar tempat dengan ion yang ada di permukaan partikel tanah. Contoh : ion 1Ca2+ bersubstitusi dengan 2K+ (maka nya pupuk MOP dan Dolomit tidak boleh ditabur bersamaan atau waktu berdekatan).
  4. Reaksi komplementer (melengkapi) : tanpa diaplikasi pupuk pun, sebenarnya ion – ion yang ada dipermukaaan partikel tanah dapat diteruskan ke larutan tanah sehingga menjadi hara yang tersedia bagi tanaman.

⇒ terjadi pada tanah – tanah yang subur.

Pada tanah yang subur dan sehat, reaksi yang dominan terjadi adalah no 4, 1, dan 3.

Jika Planters ingin aplikasi pupuknya bisa efektif diserap tanaman, losses pupuk didalam tanah (reaksi negatif) minim, maka jagalah kesuburan dan kesehatan tanahnya dengan memperhatikan indicator – indicator pada sifat fisik, kimia, mineralogi dan biologi tanahnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Pin, Ong Kim. Kulim’s Endeavour Towards Sustainable Palm Oil. Artikel. Kulim Agrotech Centre, Johor – Malaysia.

PPKS. 2005. Pemupukan Kelapa Sawit. Buku Saku Agronomi. PPKS, Medan – Indonesi