image_pdfDownload PDFimage_printPrint

BAGAIMANA KEBIASAAN MEMBENTUK KEPRIBADIAN

Oleh: Friyandito

Semangat pagi…

Salam Planter Indonesia Hebaaat

 

Menurut Wikipedia berbahasa Indonesia, kepribadian adalah keseluruhan cara seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain. Kepribadian juga diartikan cara seseorang merespon kondisi lingkungannya (penyesuaian diri). Kepribadian seseorang akan muncul jika dihadapkan pada situasi tertentu.

Kepribadian dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu :

  • Faktor keturunan atau genetis, dari orang tua turun ke anaknya.
  • Faktor lingkungan

Dari kedua faktor diatas, ternyata faktor lingkungan yang paling banyak mempengaruhi kepribadian seseorang.

Lingkungan yang berbeda akan menimbulkan respon yang berbeda. Seperti kepribadian seseorang saat dirumah bisa berbeda dengan kepribadian saat ketemu teman sekolah atau kuliah, bisa berbeda jika sedang berada dikantor.

Lingkungannya sama, tapi situasinya berbeda, maka bisa menimbulkan respon yang berbeda.

Lingkungan sama – sama dikantor, satu situasi saat lagi istirahat kerja dan situasi lain adalah saat sedang sibuk bekerja.

Saat istirahat kerja, kepribadian yang muncul ramah dan bersahabat. Sedangkan saat sibuk kerja, kepribadian yang muncul egois dan mau menang sendiri.

Lingkungannya sama dikantor, situasinya sama yaitu sedang istirahat kerja, tapi objek (orang) yang memberikan aksi berbeda, maka reponnya akan berbeda.

Si A yang sudah kenal dekat enak diajak ngobrol (muncul kepribadian ramah). Si B yang belum dikenal mengajak ngobrol (muncul kepribadian curiga dan waspada).

Dari pemahaman ini, kepribadian seseorang bisa bermacam macam tergantung lingkungan, situasi yang sedang dihadapinya, dan objek yang memberikan aksi. Ada konteks ruang, waktu, dan objek dalam memahami kepribadian ini.

Dalam melihat kepribadian yang muncul dari diri kita, maka kita butuh orang lain yang menilainya. Tentu saja orang yang dekat dengan kita dan memperhatikan tindakan yang sering kita lakukan.

Penilaian orang lain atas tindakan yang kita lakukan secara berulang – ulang secara konsisten (memiliki pola yang sama) mencerminkan kebiasaan kita.

 

Lingkungan A, Situasi A, Objek A –> Tindakan A

Lingkungan A, Situasi A, Objek B –> Tindakan B

Lingkungan A, Situasi B, Objek A –> Tindakan C

Lingkungan A, Situasi B, Objek B –> Tindakan D

dan seterusnya

 

Dengan simulasi ini maka wajar jika seseorang memiliki banyak kepribadian.

Hal ini juga yang menjadi dasar bahwa hampir tidak mungkin bagi seseorang untuk mengontrol kepribadian orang lain, yang bisa adalah membaca pola kecenderungan kepribadiannya. Jika diberikan aksi A, maka pola A yang sering muncul.

Jika ingin mempengaruhi kepribadian seseorang, maka pengaruhi kebiasaannya –> pengaruhi tindakannya –> pengaruhi perasaaannya –> pengaruhi pikirannya –> buat situasi yang diinginkan.

Tentusaja cara paling mudah adalah mengkondisikan situasi.

 Dalam model pembentukan kepribadian yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan, maka peserta didik dikumpulkan disuatu tempat dalam jangka waktu tertentu. Berbagai scenario pengkondisian situasi dilakukan untuk mengarahkan peserta didik agar pikiran, perasaan, dan tindakannya sesuai target yang diinginkan instruktur. Jika tindakan tidak sesuai target, maka instruktur memberikan hukuman kepada peserta didik.

Dalam hal ini, instruktur hanya bisa mengetahui responnya dari tindakan, sulit untuk mengetahui perasaan apalagi pikiran.

Berapa lama suatu kebiasaan bisa menjadi kepribadian?

Lama waktunya tergantung dari seberapa besar suatu situasi mampu “membekas” pikiran dan perasaan seseorang.

  • Semakin besar pengaruh situasi yang dihadapi terhadap pikiran dan perasaan seseorang, maka semakin cepat pula terbentuknya kepribadian.
  • Semakin homogen situasi yang diberikan, maka semakin cepat terbentuknya respon yang sama.
  • Semakin sedikit intervensi dari objek lain,  maka semakin mudah penerimaan dari pikiran dan perasaan, semakin cepat terbentuk kebiasaan.

Oleh sebab itu, dalam skenario pengkondisian situasi (dalam rangka membentuk kepribadian) ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan :

  • Instruktur yang terlibat didalamnya sebaiknya personil tetap dalam jangka waktu tertentu dan jumlahnya hanya beberapa orang saja.
  • Peserta didik diisolasi di lingkungan khusus
  • Skenario yang disusun mempengaruhi ke pikiran dan perasaan, bukan ke Tindakan.

Tindakan hanyalah menjadi indicator dari instruktur terhadap situasi yang sedang berjalan.

  • Karena pikiran dan perasaan sulit dikontrol oleh instruktur, maka secara perlahan tapi pasti, buat scenario situasi awal 100% dikontrol, scenario situasi di ditengah 50% dikontrol, scenario situasi diakhir 10% dikontrol.
    Jika Tindakan yang dilakukan tetap konsisten, berarti pikiran dan perasaan dari peserta didik sudah sesuai dengan target yang diingikan –> kepribadian baru sudah terbentuk.

Sebaliknya, jika pada scenario situasi akhir ternyata Tindakan peserta didik tidak sesuai dengan target yang diinginkan –> kepribadian baru gagal terbentu, dan peserta kembali ke kepribadian lamanya.

 

Demikian artikel kali ini.

Di artikel selanjutnya, kita akan lanjutkan pembahasannya Tipe Kepribadian Manusia, kelebihan dan Kelemahannya.

 

Salam Perubahan, Salam Pembelajar Sejati….

Artikel – artikel menarik dari BPI bisa diakses di www.bestplanterindonesia.com