Pertanyaan ini terus menjadi pemikiran kita bersama seiring makin tipisnya margin antara harga jual dengan harga pokok produksi (HPP).

Perhitungan sederhana margin kebun sawit adalah:

Akun Transaksi Sub Total (Rp/kg) Total (Rp/kg)
Harga jual TBS   1.200
     
HPP Kebun   1.000
~ Biaya Perawatan 100  
~ Biaya Pemupukan 500  
~ Biaya Panen 150  
~ Biaya Angkutan Panen 75  
~ Biaya Umum Site 100  
~ Biaya lainnya 75  
     
Margin   200

Dengan fluktuasi harga jual TBS yang berkisar antara Rp 1.000 – 1.200/kg, maka margin kebun ikut berfluktuasi juga.

Langkah paling aman yang dapat dilakukan seorang Planter adalah melakukan inovasi untuk menekan biaya perawatan kebun (hukumnya sunah) dan biaya pemupukan (hukumnya wajib karena Rp/kg nya paling tinggi). Biaya lainnya seperti panen, angkutan panen, umum site dan biaya lainnya cenderung hanya bisa dilakukan sedikit penghematan.

Dengan menghilangkan biaya pemupukan, maka HPP kebun sawit = Rp 500/kg.

Q : Mungkinkan berkebun sawit tanpa dilakukan pemupukan?

  • Jika jawabannya “tidak mungkin”, maka kita sudah sampai di “end of story”. Tidak ada yang perlu didiskusikan lagi.
  • Jika jawabannya “mungkin”, dengan persyaratan a b c d e dan seterusnya, ini menarik untuk didiskusikan lebih lanjut. Artinya ada peluang inovasi yang bisa dilakukan.

 

TANAH sebagai MEDIA TUMBUH

Konsep dasar bercocok tanam adalah menggunakan tanah sebagai media tumbuh tanaman (dalam hal ini kita tidak membahas mengenai hidroponik atau aeroponik, tapi mengenai soilponik).

Jika tanah mampu mensuplai semua kebutuhan hara tanaman, maka tidak diperlukan lagi pemupukan.

Bagian Tanaman Unsur Hara Diserap (kg/ha/thn)  
N P P2O5 K K2O Mg MgO  
Vegetatif 40,9 3,1 7,1 55,7 67,1 11,5 19,1  
Pelepah dipangkas 67,2 8,9 20,4 86,2 103,8 22,4 37,1  
Produksi 25 ton 73,2 11,6 26,6 93,4 112,5 20,8 34,5  
Bunga jantan 11,2 2,4 5,5 16,1 19,4 6,6 10,9  
Total Kg/ha 192,5 26,0 59,6 251,4 302,8 61,3 101,6  
Kg/pkk 1,30   0,4   2,1   0,7 4,5
Kand. Pupuk Urea= 46%   TSP= 45%   MOP= 60%   Kies= 27%  
Kg Pupuk 2,8   0,9   3,5   2,6 9,8

Sumber : Ng et al (1968) | SPH = 148 pkk/ha   

Ternyata kebutuhan hara sawit adalah 4,5 kg/pokok/tahun. Kebutuhan hara ini <5% biomassa tanaman, dimana 95% biomassa terdiri dari unsur C, H, O, N, S (bahan penyusun protein) yang dapat diperoleh dari air dan udara.

Q : mampukan tanah sebagai media tumbuh sawit menyuplai hara sebesar 4,5 kg/pokok/tahun untuk tanaman sawit?

A : Jika jarak tanam antar pokok sawit adalah 9 meter, maka jari – jarinya adalah 4,5 meter. Luas permukaan tanahnya adalah 22/7 x 4,5 m x 4,5 m = 63,6 m2.

Dengan kedalaman efektif perakaran sawit adalah 40 cm (0,4 m), maka volume tanah sebagai media tumbuh 1 pokok sawit = 63,6 m2 x 0,4 m = 25,4m3.

Selanjutnya perlu dihitung berat jenis tanah, yaitu berat tanah kering dibagi volume partikel padat (tidak termasuk volume pori-pori tanah).

Contoh berat jenis partikel tanah beberapa mineral (Blake,1986):

No Mineral/Zat Ρs ( g/cm3)
1 Humus 1,3 – 1,5
2 Kuarsa 2,5 – 2,8
3 Kalsit 2,6 – 2,8
4 Gipsum 2,3 – 2,4
5 Mika 2,7 – 3,1
6 Hematit 4,9 – 5,3
7 Mineral liat  2,2 – 2,6

Pada tanah dominan mineral liat dengan berat tanah 2,2 gram/cm3, maka berat tanah media tanam adalah 2,2 gram/cm3 x 25,4 m3 = 55.880 kg.

Jika dibandingkan kebutuhan hara tanaman 4,5 kg/pokok/tahun dengan berat tanah media tumbuhnya 55.880 kg, perbandingannya 1 : 12.418 (seper sepuluh ribu).

Pada tanah humus dengan berat jenis tanah 1,1 gram/cm3, maka perbandingan kebutuhan hara tanaman : berat tanah = 1 : 6.209 ( seper enam ribu).

Melihat perbandingan ini, sangat mungkin tanah dapat mencukupi kebutuhan hara tanaman sawit.

  

TINGKAT KESUBURAN TANAH (+ Kesehatan Tanah)

Kemampuan tanah mensuplai unsur hara tergantung pada 2 hal, yaitu kesuburan tanah dan kesehatan tanah.

  • Kesuburan tanah, terkait sifat fisik dan kimia tanah dalam menyediakan hara bagi tanaman.
  • Kesehatan tanah, terkait kemampuan mikroba tanah bersimbiosis dengan akar tanaman untuk mensuplai hara yang dibutuhkan tanaman, seperti : mikroba penambat N, pelarut P, mikoriza dan trichoderma (di areal perakaran).

 Penilaian kesuburan tanah terkait dengan pH tanah, tekstur (perbandingan pasir, debu, liat), kandungan hara N, P2O5, K2O, MgO, CaO, kapasitas tukar kation (KTK), permeabilitas tanah dll yang semua nya terkait kondisi fisik dan kimia tanah.

Pada prinsipnya, penambahan pupuk adalah komplementer (bukan substitusi) ketersediaan hara ditanah. Kondisi hara didalam tanahpun ada 3 tipenya :

  • Hara dalam larutan tanah : tersedia untuk diserap akar tanaman
  • Hara dapat ditukar : diikat lemah oleh partikel tanah, dalam dilepas kembali ke larutan tanah. Proses pelepasan dan pengikatan hara dapat ditukar ini terjadi secara kimia dan secara biologi dengan bantuan mikroba tanah.
  • Hara tidak dapat ditukar : diikat kuat masuk kedalam partikel tanah, dapat dilepas ke larutan tanah hanya secara biologi.

Melihat kenyataan bahwa sebagian besar proses yang terjadi didalam tanah berlangsung secara biologi dengan melibatkan mikroba tanah, maka istilah kesuburan tanah saja tidak cukup. Perlu ditambah dengan istilah kesehatan tanah, yaitu kandungan mikroba didalam tanah.

ORGANISME JUMLAH BIOMAS
PER M2 PER GRAM (BASAH KG PER HA)
Bakteri 1013 – 1014 108 – 109 300 – 3000
Actinomisetes 1012 – 1013 107 – 108 300 – 3000
Fungi 1010– 1013 105 – 106 500 – 5000
Mikroalga 109 – 1010 103 – 106 10 – 1500
Protozoa 109– 1010 103 – 105 5 – 200
Nematoda 106 – 107 101 – 102 1 – 100
Cacing 30 – 300 10 – 1000
Lainnya 103 – 105 1 – 200

*) Tanah Malisol (Metting, 1992)

 

Hal terpenting bahwa mikroba butuh makanan untuk bertahan hidup, dan makanan utama mikroba adalah bahan organik. Jika bahan organik tanah berkurang, otomatis mikroba tanah akan berkurang. Lokasi paling ideal bagi mikroba tanah adalah diseputaran areal perakaran tanaman, karena tanaman mengeluarkan eksudat (cairan dari akar) sebagai bahan makanan mikroba. Rumah paling ideal bagi mikroba tanah adalah humus, yaitu hasil perombakan bahan organik yang sudah fase stabil (tidak terurai lagi).

Dengan memahami ekosistem dari mikroba tanah, maka kesempatan untuk memelihara dan memperbanyak mikroba menjadi lebih baik, sehingga proses biologi didalam tanah berlangsung lebih intensif dan pelepasan hara dapat ditukar maupun hara tidak dapat ditukar ke larutan tanah berlangsung lebih sering.

  

LEISA (Low External Input for Sustainable Agriculture) dan EKOSISTEM SAWIT

Konsep LEISA berfokus pada keseimbangan ekosistem, yaitu apa yang diambil dari tanah harus dikembalikan lagi ke tanah semaksimal mungkin, sehingga agro input dari luar diupayakan seminimal mungkin.

Ilustrasi sederhananya: dalam ekosistem hutan alami dimana tidak ada tambahan agro input dari luar, tumbuh kembang tanaman tetaplah baik. Kenyataan ini yang mau diterapkan dalam ekosistem sawit tanpa pupuk.

Pada biomassa sawit ilustrasi sederhananya :

Hara tanah + hara pupuk + pelepah prunningan + janjang kosong + biomassa A sawit = biomassa B sawit + tandan buah segar (TBS)
  • Jika janjang kosong tidak dikembalikan ke lahan, maka kehilangan hara = setara 100% hara dari kg TBS yang dipanen.
  • Jika janjang kosong dikembalikan ke lahan, maka kehilangan hara = setara 79% hara dari kg TBS yang dipanen.

Dari mana kekurangan setara 79% hara dari kg TBS yang dipanen ini ditutupi?

Tentu saja dari pupuk yang diaplikasi.

Kenyataannya, ekosistem adalah hubungan keterkaitan komponen biotik dan abiotik dalam satu ruang tertentu, dimana dalam ruang ini tidak hanya ada pohon sawit, tapi ada tanaman lain yang sering disebut gulma. Sayangnya gulma ini semuanya harus dibasmi (eradikasi), dan dengan racun herbisida.

Q : apa yang salah dengan gulma ini?

Dimana biomassa, perakaran dan humus dari pelapukan gulma menjadi habitat bagi mikroba tanah

Gulma yang dibasmi dengan racun herbisida = sumber losses hara.

  • Habitat mikroba tanah menjadi rusak karena tidak ada aliran eksudat akar.
  • Cairan herbisida = racun bagi tanaman, dan racun yang bisa membunuh mikroba tanah.
  • Biomassa tanaman yang disemprot herbisida menjadi kering, artinya sebagian besar unsur Carbon (C) menguap dalam bentuk CO2, dan bukan menjadi C-organik tanah. C-organik ini menjadi bahan makanan mikroba.

 Wajar lahan yang sering disemprot racun herbisida, maka kandungan c-organik tanahnya semakin menurun.

  • Hara makro (NPK) yang ada di biomassa tanaman menjadi hilang, terutama nitrogen (N) yang menguap menjadi gas N2 (dinitrogen).

Wajar lahan yang sering disemprot racun herbisida, maka kandungan Nitrogen (N) tanahnya semakin menurun.

 Beberapa pekebun mulai menggunakan mesin potong rumput atau rotary slasher untuk memotong gulma di areal kebun. Dan hasilnya, tentusaja regrowth gulma nya lebih cepat dibandingkan disemprot racun herbisida. Dan uniknya lagi, dengan memotong gulma maka regrowth nya semakin lama semakin cepat, bisa disebabkan perkembangbiakan mikroba diseputaran perakaran semakin banyak dan ketersediaan hara dilarutan tanah semakin meningkat.

 Kunci dari penerapan konsep LEISA di perkebunan sawit adalah di pengelolaan biomassa tanaman (sawit dan gulma). Semakin cepat proses dekomposisi biomassa tanaman ini, semakin baik keseimbangan ekosistemnya. Untuk bisa cepat terdekomposisi, maka biomassa tanaman harus bersentuhan dengan tanah sebanyak mungkin, karena ditanah inilah adanya mikroba pengurai. Makin luas bidang sentuhannya, maka makin banyak mikroba pengurai yang bisa bekerja.

Jika pelepah prunning sawit + biomassa gulma dilahan sawit semuanya 100% dapat dikomposkan secara alami + aplikasi janjang kosong kembali ke lahan, maka kebutuhan agro input pupuk untuk sawit = hanya setara dengan 79% hara dari kg TBS yang dipanen.

Bagian Tanaman Unsur Hara Diserap (kg/ha/thn)  
N P P2O5 K K2O Mg MgO  
Produksi 25 ton 73,2 11,6 26,6 93,4 112,5 20,8 34,5  
Kg/pkk 0,5   0,2   0,8   0,23 2,03
79% kg/pkk 0,4   0,14   0,6   0,18 1,32
Kand. Pupuk Urea= 46%   TSP= 45%   MOP= 60%   Kies= 27%  
Kg Pupuk 0,8   0,3   1,0   0,7 2,8

 Dengan mengelola biomassa seperti diatas, maka kebutuhan pupuknya adalah dari 9,8 kg/pokok menjadi 2,8 kg/pokok (hemat sebesar 71,4% x Rp 500/kg = Rp 357/kg).

 

MIKROBA DAN BIOTA TANAH = PABRIK PUPUK ALAMI

Keberadaan mikroba dan biota tanah ini penting bagi kesuburan dan kesehatan lahan. Sebagai sesama makhluk hidup, mereka butuh habitat untuk hidup dan butuh bahan makanan. Simbiosis mutualisme bisa terjalin baik antara mikroba dan biota tanah dengan akar tanaman, yaitu sebagai pabrik pupuk alami bagi tanaman.

Semoga artikel dengan judul “Kebun Sawit Tidak Perlu Dipupuk, Mungkinkah?” ini dapat menjadi inspirasi dan bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.