Pada artikel pertama disampaikan bagi setiap jabatan Planter di kebun sawit ada 4 bidang penguasaan, yaitu :

  1. Budaya perusahaan (corporate culture)
  2. Kompetensi Teknis Pekerjaan (hardskill)
  3. Kompetensi Non Teknis Pekerjaan (softskill)
  4. Kepribadian (personal excellence)

Keempat bidang ini berlaku untuk semua level jabatan, baik itu Manager, Asisten, Management Trainee (MT) dan Mandor. Perbedaannya adalah di KEDALAMAN penguasaan.

Kedalaman penguasaan atau pembelajaran dibagi atas 5 tingkatan, yaitu:

0 – Belum diwajibkan

1 – Dasar (Basic)

2 – Lanjutan (Intermediate)

3 – Paham (Advance)

4 – Ahli (Expert)

Mandor dan Management Trainee (MT) berada di tingkatan 0 (belum diwajibkan) dan 1 (dasar), Asisten di tingkatan 2 (lanjutan) dan Manager di tingkatan 3 (paham).

Tingkatan 4 bisa dimiliki oleh level manager up atau jabatan fungsional spesialis.

Pada sesi ke-3 ini, kita akan sharing mengenai penentuan point dalam kualifikasi jabatan. BPI mengembangkan matrik kualifikasi jabatan Planter berikut:


Keterangan :

~ angka ditebalkan (bold) = jumlah aspek kompetensi

~ angka warna merah = kedalaman penguasaan atau level pembelajaran

~ angka warna hijau = point kualifikasi jabatan

Matriks kualifikasi jabatan planter dapat disesuaikan dengan kebutuhan di perusahaan.

Dari matrik sederhana diatas dapat dianalisa:

  • Seseorang lulus MT apabila nilai minimal 18 point, Mandor minimal 23 point, Asisten minimal 58 point, Manager minimal 87 point.
  • Seseorang yang baru lulus MT, masuk masa OJT maka secara kemampuan masih dibawah Mandor, tapi dengan akselerasi belajar di lapangan bisa melewati point Mandor.
  • Posisi antara Mandor dengan Asisten dapat diisi oleh Mandor 1 (misal : 40 point), dan posisi antara Asisten dengan Manager dapat diisi oleh Askep (misal : 63 point).
  • Ketika Asisten sudah mencapai 87 point, maka layak di promosi menjadi Manager, tinggal bersaing dengan sesama Asisten yang memiliki nilai point yang relatif sama.
  • Sebaiknya, ketika kinerja Asisten kurang memuaskan, dimungkinkan penurunan point (demosi).

Tentu saja perhitungan point matrik kualifikasi jabatan planter ini ada kelebihan dan kekurangannya.

Kelebihan:

  • Jenjang karir dan mekanisme penilaian kemampuannya tergambar dengan jelas. Jadi Planter dapat mengukur diri dimana posisinya berdiri saat ini.
  • Memudahkan HRD perusahaan dalam menentukan prioritas untuk pengembangan karyawan.
  • Sistem point ini juga diterapkan dalam penilaian kinerja di pemerintahan (PNS dan ASN), disebutnya kredit point.

Kelemahan:

  • Penentuan poin sangat tergantung dari tim penilai. Bisa dari atasan + HRD perusahaan + Direksi.
  • Penentuan aspek kompetensi menjadi penting agar bisa mewakili kebutuhan perusahaan seutuhnya.

Silahkan Planter berimprovisasi dan merancang matrik kualifikasi yang paling sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Untuk diskusi lebih lanjut dapat menghubungi Best Planter Indonesia.