Oleh : Friyandito, SP. MM (Praktisi Diklat Sawit)

Setiap zaman ada ciri khasnya. Generasi milenial (yang lahir tahun 1990-an atau saat ini berusia maksimal 28 tahun) sangat akrab dengan gadget atau perangkat elektronik seperti handphone (HP) dan laptop, identik dengan internet dan sinyal. Lulusan institusi pendidikan atau universitas ditahun 2018 ini termasuk generasi milenial. Coba sejenak diperhatikan, bagaimana antusiasme mereka untuk mau bekerja di perusahaan sawit ?

Paradigma kebun sawit jauh dari peradaban perlu segera dirubah untuk menimbulkan daya tarik bagi calon karyawan. Semakin banyak calon lulusan kampus yang tertarik bekerja di kebun sawit, semakin ringan tugas Dept. HRD Bagian Rekruitmen untuk memilih bibit terbaik yang diterima perusahaan.

Bukan kah saat ini HRD kesulitan mencari calon karyawan? baik untuk Management Trainee setingkat Asisten apalagi setingkat Mandor. Jangan sampai kualitas dikorbankan hanya untuk memenuhi kuota penerimaan karyawan. Resikonya, tingkat turn over karyawan kedepan akan semakin meningkat.

MEMAHAMI PEMIKIRAN GENERASI MILENIAL

Semua serba praktis, semua serba cepat dan semua dalam genggaman (maksudnya difasilitasi HP). Berhasil memahami ini, maka semakin mudah mengatur generasi milenial.

Handphone (HP) menjadi kebutuhan wajib. Tentu saja ketersediaan sinyal dan listrik untuk cas HP menjadi faktor pendukung utama. Dengan adanya HP, banyak hal bisa dilakukan secara online, seperti komunikasi, kirim foto – data – file dokumen, searching informasi di internet, update berita, belanja onlie, pemesanan tiket – pulsa – bayar tagihan, pertemanan dunia maya dan lainnya. Hanya dengan berbekal HP saja, generasi milenial dapat “hidup” walaupun tidak keluar dari ruangan dan tidak bersosialisasi dengan orang lain.

Existensi diri didunia maya lebih penting dari pada pembuktian diri di dunia nyata. Sampai membawa HP kemana mana karena takut ketinggalan update status atau telat membalas postingan dari teman teman.

SINKRONISASI BUDAYA KEBUN PADA GENERASI MILENIAL

  • Budaya Komunikasi

Komunikasi kebun sebelumnya via handie talkie (HT) berganti dengan talkmania (TM) atau whatsapp group (WaG). Komunikasi jadi lebih baik, lebih lancar dan ada bukti tertulisnya jika via WAG. Percakapan pun berkembang mulai dari hal formal sampai ke non formal.

  • Budaya Koordinasi

Pada WAG khusus, pimpinan dapat memberikan instruksi ke bawahan dan bawahan dapat langsung menanggapinya saat itu juga. Jika ada satu kondisi yang minta keputusan dari pimpinan, bisa disampaikan juga di WAG. Surat dan tandatangan bisa menyusul kemudian, bahkan mungkin tidak perlu lagi pakai tandatangan, cukup screenshoot percakapan sebagai bukti instruksi.

  • Budaya Data, Dokumentasi dan Fakta

Planters dituntut untuk bicara sesuai kondisi dilapangan, tanpa rekayasa, melebih-lebihkan atau menutup-nutupi. Pekerjaan ini sulit dilakukan dulunya karena butuh banyak alat bantu, seperti buku catatan, kamera saku, komputer meja dan lainnya. Sekarang, semula terfasilitasi dengan sebuah HP.

Laporan lebih cepat dikirim via WA dibandingkan via email, bahkan bisa live report dari lokasi kejadian. Foto kebun bisa ditambahkan koordinat GPS, jam pengambilan foto dan keterangan lokasi lainnya.

  • Budaya Kontrol

Kontrol menjadi syarat wajib bagi seorang planter. Dengan territorial yang luas dan tantangan alam yang beragam, mengelola segitu banyak orang dengan beragam karakter, target dari manajemen yang harus diamankan, maka kontrol menjadi syarat wajib. Bukti kontrol disajikan dalam bentuk gambar. No pic = Hoax.

TANTANGAN MENGELOLA GENERASI MILENIAL

Dibalik kelebihan yang didapat dari perkembangan teknologi informasi ini, ada kekhawatiran pada generasi milenial.

  • Tidak bisa hidup tanpa gadget.

Lokasi kebun yang jauh dipelosok, apalagi tidak dapat cakupan sinyal bisa membuat karyawan generasi milenial tidak betah. Jika pun sudah bergabung dengan perusahaan, kemungkinan menunggu waktu dan resign-nya sangat tinggi. Ada upaya mencari kesempatan hanya untuk dapat sinyal, dimana konsentrasi kerjanya terbagi.

Alternatif solusinya : memberikan akses layanan free wifi diluar jam kantor.

  • Luas secara pengetahuan, tapi dangkal secara keilmuan.

Walaupun gadget menawarkan fasilitas searching informasi tanpa batas, tetapi kebanyakan penggunaan gadget hanya untuk akses media social dan jaringan pertemanan. Update status dan sharing foto maupun hanya sekedar chatting. Ditambah lagi ilmu teknis operional sawit hanya itu – itu saja dan harus berlandaskan SOP perusahaan, maka aktivitas searching kurang diminati.

Alternatif solusinya : memberikan project non teknikal (soft skill) untuk meningkatkan keingintahuan karyawan terhadap hal – hal baru.

  • Kebocoran informasi kondisi kebun.

Gadget membuat karyawan saling terhubung dengan teman temannya di perusahaan lain dan di kebun yang lain. Kondisi dikebun sendiri, sedetik kemudian bisa tersebar ke social media, dan diakses orang banyak orang yang tidak berkepentingan. Tinggal foto, update status, atau berkeluh kesah di social media, bocor informasi keluar kebun. Dan biasanya, pimpinan tidak di-invite untuk gabung di social media tersebut.

Alternatif solusinya : punishment jika ketahuan tidak akan bikin jera, karena postingan kebocoran informasi kebun disebabkan sikap mental negative karyawan terhadap perusahaan. Jadi, sikap mental inilah yang perlu diperbaiki.

  • Tingginya tingkat hi-jack dan perpindahan karyawan.

Rumput tetangga kelihatan lebih hijau. Info lowongan kerja, info fasilitas kerja, info jenjang karir, info salary dari perusahaan tetangga menjadi menu wajib yang diakses karyawan. Sedikit dapat tekanan pekerjaan, pikirannya langsung melayang untuk mencoba keberuntungan melamar pekerjaan di perusahaan tetangga. Lagi – lagi integritas karyawan patut dipertanyakan.

Alternatif solusinya : informasi yang berimbang perlu diberikan ke karyawan untuk meng-counter daya tarik dari luar. Itu bisa dilakukan oleh karyawan yang loyalis pada perusahaan. Untuk mendapatkan karyawan yang loyalis, perlu dikelola mimpi dari karyawan,  sehingga dia tidak berpaling ke lain hati.

Best Planter Indonesia (BPI)

Best Planter Indonesia adalah Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Perkebunan khususnya sawit yang memfokuskan kegiatan pada aspek softskill  Planter, seperti

  • Diklat Character Building Planter : untuk fresh graduate.
  • Diklat Team Building : melatih kerjasama dalam team kerja untuk mencapai tujuan Bersama.
  • Diklat Self Leadership Development : mengembangkan jiwa kepemimpinan pada individu.
  • Diklat Adversity Improvent : melatih kemampuan dan ketahanan dalam menghadapi masalah, de-motivasi karyawan, meluruskan si trouble maker melalui kecerdasan dalam kesulitan (adversity quotion).
  • Diklat Sikap Mental Planter : mengembangkan sikap positif dalam berinteraksi dengan perusahaan, dengan pimpinan, dengan sesame rekan kerja, dengan bawahan dan dengan lingkungan.

Perusahaan bapak / ibu membutuhkan pelatihan soft skill karyawan?  Tunggu apa lagi.

Segera hubungi Lembaga Diklat Best Planter Indonesia

Telp/ WA : 0811 810 699 (Heri DB) atau 0812 1997 193 (Friyandito), email : bpi@bestplanterindonesia.com

Unduh Brosur