Pada artikel sebelumnya, bagi setiap jabatan Planter di kebun sawit ada 4 bidang penguasaan, yaitu :

  1. Budaya perusahaan (corporate culture)
  2. Kompetensi Teknis Pekerjaan (hardskill)
  3. Kompetensi Non Teknis Pekerjaan (softskill)
  4. Kepribadian (personal excellence)

Keempat bidang ini berlaku untuk semua level jabatan, baik itu Manager, Asisten, Management Trainee (MT) dan Mandor. Perbedaannya adalah di KEDALAMAN penguasaan.

Secara sederhananya, seorang Manager seharusnya memiliki kompetensi teknis pekerjaan lebih baik dibandingkan Asisten, dan Asisten memiliki kompetensi teknis pekerjaan lebih baik dibandingkan Mandor.

Hal ini akan berlaku jika jalur karirnya dimulai dari bawah. Hal berbeda mungkin saja dialami perusahaan yang membajak (hijack) karyawan dari perusahaan lain.

Dalam pembelajaran, kemampuan peserta dibagi atas 5 tingkatan, yaitu:

0 – Belum diwajibkan

1 – Dasar (Basic)

2 – Lanjutan (Intermediate)

3 – Paham (Advance)

4 – Ahli (Expert)

Mandor dan Management Trainee (MT) berada di tingkatan 0 (belum diwajibkan) dan 1 (dasar), Asisten di tingkatan 2 (lanjutan) dan Manager di tingkatan 3 (paham).

Tingkatan 4 bisa dimiliki oleh level manager up atau jabatan fungsional spesialis.

Kelebihan dari model 5 tingkatan ini adalah ada tuntutan terus belajar ditiap level jabatan untuk bisa mendapatkan promosi.

Seorang Asisten harus menaikkan kemampuannya dari level 2 (lanjutan) menjadi level 3 (paham) apabila ingin dipromosi menjadi Manager.

Kelemahan dari model 5 tingkatan ini adalah pengalaman kerja dan pendalaman minat kerja menjadikan seseorang lebih kompeten dibandingkan jabatannya. Contohnya Asisten yang spesialisasi mengurusi pemupukan, bisa jadi lebih menguasai agronomis pemupukan dibandingkan Managernya. Bisa jadi tingkat pembelajarannya adalah 4 (ahli).

Tentu saja spesialisasi dan minat kerja ini membawa efek positif pada penguasaan bidang kerjaan. Artinya, untuk kompetensi kerja A misalnya, maka kemampuan Asisten sudah setara dengan kemampuan Manager. Tapi bagaimana dengan kompetensi kerja B? dengan bidang penguasaan yang sama misalkan bidang penguasaan kompetensi teknis pekerjaan.

Semakin banyak kompetensi kerja seorang Asisten yang tingkat pembelajarannya adalah level 3 (paham), maka semakin layaklah Asisten tadi dipromosi menjadi Manager. Sejalan dengan konsep ini, jika Manager existing ternyata tingkat pembelajarannya di level 2 (lanjutan), maka perlu akselerasi agar segera mencapai level 3 (paham).

Sederhananya, “untuk bisa menjadi pemimpin yang baik maka seseorang harus berada minimal satu tingkat lebih tinggi dibandingkan orang yang dipimpinnya”, agar sebagai lokomotif mampu menarik gerbongnya untuk maju kedepan. Filosofi kereta api, lokomotif berada didepan agar gerak majunya lebih cepat dan terkontrol dibandingkan lokomotif ada dibelakang.

Semoga artikel mengenai kualifikasi jabatan Planter ala BPI ini dapat menjadi inspirasi bagi kita semua. Maju terus Planter Indonesia Hebaaat.