image_pdfDownload PDFimage_printPrint

MODEL PENGEMBANGAN DIRI MANUSIA

Oleh: Friyandito

Semangat pagi…

Salam Planter Indonesia Hebaaat

 

Setiap orang pastinya ingin menjadi lebih baik lagi dari waktu ke waktu. Ada sebuah ungkapan bijak, tuntutlah ilmu dari ayunan sampai ke liang kubur, artinya selama masih hidup kita senantiasa belajar dan belajar.

Sebuah ilustrasi sederhana menggambarkan model pengembangan diri manusia.

 Ada 6 model pengembangan diri manusia terkait dengan proses belajar.

  1. Kondisi saat ini
  2. Kondisi memperdalam ilmu dasar (fundamental) terjadinya sesuatu.
  3. Kondisi meningkatkan ilmu aplikatif yang dapat langsung diterapkan.
  4. Kondisi memperdalam ilmu dasar dan memperdalam ilmu aplikatif sekaligus.
  5. Kondisi mengembangkan lebih banyak bidang keilmuan untuk dipelajari
  6. Kondisi ideal untuk belajar, bertambah bidang keilmuannya, lebih mendalam dan lebih aplikatif.

 

A. KONDISI SAAT INI

Diri kita berada dikondisi saat ini. Beraktivitas normal sehari hari dan menyelesaikan tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepada kita.

Tentu kita juga boleh membayangkan diri kita beberapa waktu kedepan ingin menjadi seperti apa? Jika mau keinginannya terwujud, ada hal baru yang harus kita pelajari.

  • Sebagai contoh, kondisi saat ini adalah melakukan aktivitas pemupukan di kebun sawit. Pupuk ditabur ke lahan didekat pohon sawit.

 

B. KONDISI MEMPERDALAM ILMU DASAR

Memperdalam ilmu dasar artinya kita mencari tahu penyebab terjadinya sesuatu, termasuk proses yang terjadi didalamnya. Menelusuri asal muasal ini sama dengan mempelajari ilmu pasti – exact science (matematika, fisika, kimia, biologi, optic, astronomi) dan ilmu tentang alam (siklus dan daur kehidupan) yang tidak berubah dari zaman kuno sampai zaman sekarang. Inilah yang disebut dengan sunnatullah atau hukum alam.

Memperdalam ilmu pemupukan = mempelajari tentang proses dari pupuk ditabur sampai pupuk diserap oleh tanaman, termasuk proses yang terjadi terhadap pupuk didalam tanah.

 

C. KONDISI MENINGKATKAN ILMU APLIKATIF

Jika ilmu dasar digunakan untuk membuktikan penyebab dan proses terjadinya sesuatu, maka ilmu aplikatif terkait tindakan yang dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu. Kebanyakan orang tertarik dengan ilmu aplikatif karena langsung terlihat pengaruhnya terhadap pencapaian target atau keinginan.

  • Meningkatkan ilmu pemupukan = mempelajari cara aplikasi pupuk pupuk yang benar, yaitu menggunakan konsep 5T (tepat jenis, tepat dosis, tepat tempat, tepat waktu, tepat cara).

Dengan mempelajari ilmu aplikatif ini, maka kita bisa memenuhi petunjuk teknis dalam melakukan suatu aktivitas.

 

D. KONDISI MEMPERDALAM ILMU DASAR DAN MENINGKATKAN ILMU APLIKATIF

Jika ditanya mana yang lebih dahulu harus dikejar, apakah mendalami ilmu dasar dulu atau meningkatkan ilmu aplikatif, maka jawaban terbaiknya adalah memperdalam ilmu aplikatif 25% (sebagai tujuan atau target), mendalami ilmu dasar 50% (memperkuat pondasi keilmuannya), memperdalam lagi ilmu aplikatif 25% (untuk inovasi atau perbaikan setelah memperkuat pondasinya). Inilah yang menunjukkan pengembangan diri.

  • Memperdalam dan meningkatkan ilmu pemupukan = mempelajari mulai dari kebutuhan hara tanaman, pupuk yang sesuai, cara aplikasi terbaik, proses yang terjadi didalam tanah, sampai pupuk diserap tanaman.

 

E. KONDISI MENGEMBANGKAN LEBIH BANYAK BIDANG KEILMUAN

Pada kondisi ini, ilmunya dangkal tapi luas (multi disiplin ilmu). Sistem sekolah di Indonesia menggunakan pola ini untuk jenjang Pendidikan TK, SD, SMP, SMA, Kuliah, kecuali untuk sekolah kejuruan (SMK) dan kuliah kejuruan (Politeknik). Harapannya, dengan mengetahui banyak bidang ilmu, maka orang akan bisa beradaptasi dengan banyak kondisi dan bisa mempelajari banyak hal.

  • Seperti orang baru masuk kedunia perkelapasawitan yang diperkenalkan dengan banyak hal, mulai dari pemupukan, pemanenan, pengendalian hama dan penyakit tanaman, pengendalian gulma, administrasi dan pelaporan, anggaran dan keuangan serta bidang keilmuan lainnya.

 

F. KONDISI IDEAL UNTUK BELAJAR, BERTAMBAH BIDANG KEILMUANNYA, LEBIH MENDALAM DAN LEBIH APLIKATIF.

Kondisi inilah yang selalu diharapkan oleh kita semua, dimana kita tidak berhenti belajar, mencari tahu berbagai bidang ilmu, kemudian mendalami masing – masing ilmu dasarnya dan meningkatkan masing – masing ilmu aplikatifnya.

Kita tentu mengenal Ibnu Sina (980-1037) dikenal juga sebagai “Avicenna” di dunia Barat adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan dokter kelahiran Persia (sekarang Iran). Ia juga seorang penulis yang produktif yang sebagian besar karyanya adalah tentang filosofi dan kedokteran.

Secara fitrahnya, manusia bisa menguasai multi disiplin ilmu, asalkan mau terus belajar dan berbagi dengan sesamanya.

 

Demikian artikel kali ini.

Di artikel selanjutnya, kita akan lanjutkan pembahasannya Pentingnya Menetapkan Selang Waktu dalam Suatu Aktivias.

 

Salam Perubahan, Salam Pembelajar Sejati….

Artikel – artikel menarik dari BPI bisa diakses di www.bestplanterindonesia.com