Disiapkan Oleh : Friyandito, SP. MM

Kerjasama Best Planter Indoensia (BPI) dengan Kebun Cinta Organik (KCO)

 

A. PEMIKIRAN OUTPUT

Cikal bakal suatu bisnis sayuran organik biasanya dimulai dari 3 hal utama :

1. Siapa saja pembeli yang siap menampung hasil produksi? *A1)

Ada banyak tipe pembeli yang ada dipasar. Setiap pembeli memiliki persyaratan dan standar produk yang ingin dibelinya.

Misal : Pasar produk adalah Yogya / Giant / hypermart / total buah segar / Carrefour dan lainnya.

 

2. Apa kriteria produk sayuran yang diinginkan oleh pembeli ? Berapa harganya ? *A2)

Misal : Yogya Bogor Junction memiliki jenis – jenis sayuran organik yang bisa dijual di supermarketnya.

Lain tempat pasar modernnya, lain lagi jenis – jenis sayuran yang bisa dijual.

Survey pasar secara langsung dapat dilakukan untuk mendapatkan data awal jenis – jenis sayuran yang dijual dan harga jualnya. Akan lebih baik lagi jika sudah punya relasi dengan bagian marketing dari pasar modern tersebut.

 

3. Berapa kuantiti yang diminta? *A3)

Data ini tidak bisa diperoleh secara bebas tanpa terlibat dalam proses marketing. Untuk memperoleh data ini bisa dilakukan dengan cara magang di unit bisnis yang sudah berjalan supply produk ke pasar modern. Berapa permintaan produk atau PO (purchase order) yang diberikan dari pasar modern ke unit bisnis tersebut dalam periode tertentu. Sedangkan berapa pemenuhan unit bisnis terhadap PO pasar modern biasanya datanya bersifat rahasia.

Ketiga pertanyaan ini mencerminkan goal atau tujuan bisnis terkait pemasaran produk.

 

B. PEMIKIRAN PROSES

Setelah 3 pertanyaan tentang output atau pemasaran produk bisa terjawab, barulah ditarik benang merah kebelakang, yaitu proses yang harus dilalui untuk bisa masuk ke pemasaran produk.

Ada 3 pertanyaan yang dapat mewakili tahapan proses ini.

1. Apakah semua produk sayuran yang diinginkan pembeli mau kita produksi? Hampir pasti jawabannya adalah “Tidak”. Jika begitu, produk sayuran apa saya yang mau kita produksi ? *B1)

Misal : dari 10 jenis sayuran yang diingikan pembeli, kita cuma mau produksi 3 jenis sayuran yaitu kangkung, bayam dan selada.

Pemilihan jenis produk sayuran yang mau diproduksi butuh pertimbangan yang cermat. Salah satunya dari point *A3), analisa harga jual vs harga pokok produksi, kemampuan “know how” untuk produksi.

 

2. Apakah kita punya kemampuan “know how” untuk produksi 3 jenis sayuran? *B2)

Jika punya kita dapat mulai bisnis dengan single fighter. Jika tidak, maka butuh partner untuk memulai bisnis ini.

Dari kemampuan “know how” inilah baru dimulai rancangan portofolio bisnis termasuk rancangan analisa Laba Rugi (L / R), analisa Neraca Keuangan, analisa cash flow, analisa siklus produksi dan lainnya.

 

3. Apakah kita pemain tunggal dibisnis ini? Atau ada unit bisnis sejenis yang juga masuk pasar yang sama ? Hampir bisa dipastikan jawabannya “ada pemain lain”.

Pada kondisi ini, kita harus memilih secara garis bisnis apakah mau berkolaborasi atau bersinergi dengan unit bisnis sejenis ? ataukah mau berdiri sendiri ? dan menjadi pesaing bagi unit bisnis sejenis ? *B3)

Inilah tahapan analisa persaingan usaha dan tingkat resiko bisnis.

Pada tahap ini kita tidak lagi berbicara mengenai “keakuan” tapi sudah melihat lebih luas bahwa keberadaan bisnis kita merupakan bagian dari tatanan sistem perdangangan dan sistem produksi.

Ketiga pertanyaan ini mencerminkan proses bisnis meliputi mekanisme / alur kerja, kemampuan produksi dan persaingan usaha.

 

C. PEMIKIRAN INPUT

Pada tahap input inilah kita membahas mengenai modal untuk memulai usaha, seperti lahan, sumberdaya manusia, dana, bahan baku produksi dan lainnya.

Dalam pemikiran input, ada 3 pertanyaan pewakil.

1. Apakah modal yang digunakan untuk bisnis merupakan milik sendiri atau kerjasama dengan pihak lain ? *C1)

Pengelolaan unit bisnis yang modalnya berasal dari pribadi berbeda dengan modal keluarga, berbeda dengan modal patungan / konsorsium, berbeda dengan modal pihak ke-3 yang harus dikembalikan.

 

2. Apakah kita terlibat langsung dalam menjalankan bisnis atau bertindak sebagai pengawas atau sebagai penanam modal saja? *C2)

Hal ini terkait tugas dan tanggung jawab serta kewenangan dalam bisnis.

Jika terlibat dalam menjalankan bisnis banyak berhadapan dengan mengelola modal.

Jika sebagai pengawas berkecimpung dalam kontrol dan evaluasi standar operasinal and prosedur (SOP).

Jika sebagai penanam modal bergelut dengan cash flow dan analisa keuangan.

 

3. Apakah bisnis ini bersinergi dengan bisnis lain dalam satu group? *C3)

Misalkan : bisnis sayuran organik bersinergi dengan bisnis pupuk organik, atau bersinergi dengan bisnis pestisida organik, atau bersinergi dengan bisnis pasar modern dan lainnya.

Sinergi bisnis dalam satu grup akan mempengaruhi kecepatan pengembangan bisnis dan kemandirian bisnis.

Ibarat sapu lidi, jika berdiri sendiri maka lidi tadi mudah dipatahkan. Jika terikat dalam satu group, maka antar lidi saling menguatkan satu sama lainnya.

Dari 3 pemikiran diatas yaitu output  proses  input, tahapannya untuk memulai bisnis JANGAN DIBALIK.

Pemahaman inilah sebagai pondasi kita memulai bisnis.

 

PEMBINAAN WIRAUAHAWAN MUDA.

Wirausahawan muda ibarat seorang anak belajar berjalan. Mereka punya kemampuan, punya semangat, punya keyakinan. Asal mau mencoba, berusaha, terjatuh, mencoba lagi, berusaha lagi + bimbingan dari orang tua, maka si anak akan bisa berjalan bahkan berlari. Peran orang tua sangat vital disini.

Dalam memulai bisnis, peran Bapak Angkat sangat penting, yaitu unit bisnis yang terlebih dahulu telah sukses menjalankan bisnis yang sama.

Jika kita berpikiran menjadi Bapak Angkat, orang lain dapat menjadi pesaing dikemudian hari sangatlah tidak bijak. Bisa jadi, orang yang kita didik akan menjadi penolong atau partner kita dikemudian hari dalam mengembangkan bisnis karena memiliki background dan budaya kerja yang sama.

Konsep pembinaan wirausahawan muda dijabarkan dalam 3 tahapan.

  1. Tahap penyamaan cara pandang berbisnis.
  2. Tahap Tahu – Bisa – Terampil – Ahli.
  3. Tahap duplikasi – ATM (Amati, Tiru, Modifikasi).

 

TAHAP PENYAMAAN CARA PANDANG

Cara pandang bisnis diperoleh melalui diskusi, saling tukar ide dan pengalaman, mengikuti pemaparan bisnis. Cara paling efektif adalah melihat langsung bisnis yang sudah berjalan apakah sudah sesuai dengan apa yang dibayangkan?

Jika sudah sesuai, maka cara pandangnya memiliki banyak kesamaan. Jika berbeda, maka cara pandangnya perlu disesuaikan dengan tempat studi banding, atau malah mencari tempat studi banding lain yang lebih representatif.

TAHAP TAHU – BISA – TERAMPIL – AHLI

Untuk memulai bisnis, minimal kita berada di posisi “bisa”, lebih baik lagi kalau berada di posisi “terampil”, artinya kita telah mencoba sebelumnya menjalankan proses dalam bisnis ini.

Cara paling efektif adalah melalui MAGANG.

Dalam kegiatan magang, minimal kita mendapatkan pengalaman dalam menjalankan bisnis yang ingin kita jalankan, dengan tingkat resiko sangat kecil, walaupun dalam magang tidak semua proses bisa diikuti (ada proses tertentu yang dirahasiakan guru kepada muridnya).

TAHAP DUPLIKASI – ATM (AMATI, TIRU, MODIFIKASI).

Berbekal ilmu dan pengalaman dari magang, diharapkan wirausahawan muda bisa memulai bisnis baru dengan model duplikasi seperti apa yang didapatnya saat magang.

Kenapa duplikasi ? Karena proses yang dilakukan dalam bisnis saat magang telah terbukti berjalan dengan baik. Artinya, jika kita jalankan prosesnya persis sama 100% dengan yang dijalan saat magang, maka peluang keberhasilannya mencapai 100%.

Bagaimana jika peluangnya tidak sampai 100%? Saat itulah sang murid bertanya kepada gurunya, tempat dia pernah magang.

Akan lebih baik lagi apabila saat memulai bisnis baru, sang murid tetap didampingi oleh sang guru sampai sang murid kuat berjalan.

Semua berawal dari pikiran, turun ke mata dan mulut untuk mencari tahu, turun ketangan untuk mulai dilakukan, turun ke hati untuk direnungi apa yang dicapai, dan turun ke kaki agar kuat berdiri dan mampu melangkah.

Semoga konsep ini dapat dipahami, kemudian dikembangkan sesuai rencana bisnis masing – masing dan disempurnakan menjadi lebih baik lagi.