Tulisan dimuat di Harian Medan Bisnis Edisi Senin, 17 Juli 2017 – http://mdn.biz.id/n/310625/

Oleh : Sigit Prasetyo

“Berbicara tentang kesehatan lahan, maka kita berbicara tentang keseimbangan alam (ekosistem) dalam aspek fisik, aspek kimia, dan yang terutama aspek biologi. Dan, jika kita bicara tentang replanting, maka itu berarti menanam kembali”.
Itulah pernyataan yang disampaikan praktisi perkebunan sekaligus Direktur Best Planter Indonesia Bogor Sigit Prasetyo memulai obrolannya dengan MedanBisnis, akhir pekan lalu di Medan.

Penanaman kembali, dimaksudkan untuk peremajaan tanaman, mengganti tanaman kelapa sawit tua yang sudah rendah produktivitas-nya dengan tanaman kelapa sawit baru yang potensi produktivitasnya tinggi. Dengan demikian, keberadaan (eksistensi) perusahaan perkebunan kelapa sawit tetap terjaga, dan terjadi perkembangan perusahaan.

“Tetapi, jika kita melakukan replanting di atas lahan eks kebun kelapa sawit, yang sebelumnya telah terserang ganoderma boninense, dan serangan itu tidak dikendalikan dengan baik, replanting yang dilakukan berarti menanam bibit kelapa sawit yang sehat di atas lahan yang tidak sehat. Keseimbangan ekosistem mikroorganismenya tidak dalam posisi yang baik,” jelasnya.

Kolonisasi dan serangan (infeksi) jamur ganoderma boninense pada jaringan akar dan batang pohon kelapa sawit yang terinfeksi pada blok kebun yang akan di-replanting, terlihat nyata gejalanya pada daun kelapa sawit yang berwarna hijau pucat, daun-daun tua menjadi layu, patah pelepahnya dan menggantung di sekeliling batang. Pada pangkal batang atau bonggol batang pohon sawit sering juga dijumpai tubuh buah jamur ganoderma ini dengan bentuknya yang khas.
Ada juga bonggol atau pangkal batang pohon sawit yang keropos dan membusuk.
Karena itu, hal terpenting dalam replanting kebun sawit yang telah terkena serangan ganoderma, adalah perencanaan yang baik diikuti dengan pengendalian ganoderma secara sistematis dan komprehensif, dengan menggunakan musuh alami ganoderma, yaitu trichoderma sp.

Trichoderma sp ini telah diproduksi secara luas saat ini. Pengalaman kami cukup efektif digunakan sebagai agen biokontrol bagi jamur ganoderma,” ujar Sigit.
Perencanaan yang baik lanjut dia, dimulai dari pemetaan tanaman yang terserang ganoderma di dalam blok kebun sebelum tanaman tersebut ditumbang.

Kemudian dilakukan penumbangan tanaman tua yang diikuti dengan pencacahan batang, tajuk, dan bonggol tanaman. Sehingga cacahan eks pohon kelapa sawit yang terinfeksi tersebut terkena atau terpapar sinar matahari secara langsung. Tindakan yang terakhir dan terpenting setelah pemilihan bibit kelapa sawit yang toleran serangan ganoderma, adalah introduksi jamur trichoderma ke dalam sistem tanaman, dimulai dari pembuatan bibit (PN dan MN), di dalam lubang tanam dan selama pemeliharaan tanaman.

“Kita lihat peta serangan ganoderma yang telah dibuat sebelumnya. Untuk lubang tanam yang terletak di daerah yang relatif rendah tingkat serangannya atau tidak terlihat serangan, pada lubang tanam dapat diberikan trichoderma sebanyak 125 – 150 gram per lubang tanam,” terangnya.

Sedangkan untuk lubang tanam yang terletak di daerah yang tingkat serangannya tinggi atau berat, pada lubang tanam dapat diberikan Trichoderma dengan jumlah 400 – 500 gram per lubang.

Sementara pada saat pembibitan agar dipilih media tanah yang sehat dan diberikan trichoderma dalam jumlah 40 gram per polibag pada PN dan 60 gram per polibag pada media MN. Sedangkan untuk meningkatkan serapan hara melalui jangkauan perakaran yang lebih baik dan untuk mendapatkan ketahanan bibit dapat ditambahkan mikoriza dalam jumlah 10 gram per polibag pada PN dan 20 gram per polibag pada MN.Dalam perkembangan selanjutnya, pertumbuhan dan perkembangan tanaman kelapa sawit terus dipantau dan dicatat dengan baik, baik pada fase umur tanaman TBM-1, TBM-2, TBM-3, dan seterusnya.

“Dari hasil pemantauan itu, jika dijumpai tanda-tanda yang mengindikasikan serangan ganoderma, segera lakukan pengendaliannya dengan aplikasi trichoderma,” terang Sigit. (edward bangun)