Saat pandemi covid 19 ini, pola pembelajaran bertransformasi dari dari tatap muka menjadi online secara digital. Terjadi juga pergeseran pola pikir untuk mencari ilmu gratisan lewat internet atau pembelajaran online gratis. Kenapa gratis? Karena berbagi ilmu itu merupakan kebaikan. Karena berbagi ilmu itu mencerdaskan sesama. Filosofinya, more you give, more you get (semua dimulai dengan memberi, barulah kita menerima). Ketika mencari ilmu gratisan, apakah disebabkan oleh keterbatasan dana untuk mencari ilmu yang berbayar? Ataukah mencari ilmu gratisan karena punya niat akan menshare ilmu yang dimiliki secara gratisan juga ke orang lain ? sehingga bola saljunya berputar makin membesar.   MENCARI ILMU BERBASIS KOMUNITAS Dalam mencari ilmu, bisa saja secara gratisan, asalkan berbasis komunitas. Apa maksudnya ini? Sebuah ilustrasi sederhana, ada 5 orang berkumpul yaitu si A, B, C, D, E. Mereka berlima haus akan ilmu baru, maka mereka membuat komunitas pembelajar U. Mereka sepakat untuk saling sharing ilmu secara bergantian secara gratisan. Minggu pertama giliran si A, minggu kedua giliran di B dan seterusnya. Dalam 5 minggu semua kebagian 1x sharing, dalam 10 minggu 2x sharing, dalam 15 minggu 3x sharing dan seterusnya. Lama kelamaan orang di komunitas pembelajar U akan kehabisan topik batasan. Sangat wajar, karena ilmu mereka hanya berputar di komunitas pembelajar U saja. Lain ceritanya jika mereka berafiliasi dengan komunitas pembelajar lainnya. A berafiliasi dengan komunitas pembelajar (disingkat kopem) V, B dengan kopem W, C dengan kopem X, D dengan kopem Y, E dengan kopem Z. Jika hanya dikopem U, maka ilmunya hanya 5. Pada saat A, B, C, D, E masing – masing berafiliasi kopem V, W, X, Y, Z maka ilmunya menjadi 5×5 = 25 (yaitu A5, B5, C5, D5, E5). Ini simulasi jika masing – masing berafiliasi pada 1 kopem saja, bagaimana jika berafiliasi dengan 2 kopem? Hitungan jadi 5x5x(2) = 50 (yaitu A10, B10, C10, D10, E10). Tentu perkembangan ilmunya akan lebih pesat.   KOMUNITAS PEMBELAJAR LINTAS STATUS Biasanya komunitas terbentuk karena dasar kesetaraan antar sesama anggota, dan disepakatilah satu orang sebagai koordinatornya. Beda halnya dengan organisasi yang memiliki struktur kepengurusan. Dengan pola komunitas pembelajar diatas, maka mencari ilmu bisa dilakukan tanpa keluar uang. Ketika ingin mencari ilmu dari orang yang lebih pakar dari para anggota komunitas, bisakah tanpa keluar uang juga? Jawabannya adalah bisa. Seorang senior akan mau sharing ilmu kepada junior dengan pertimbangan tertentu dan itu bukanlah uang.
  • Ingin melakukan kaderisasi di komunitas, seperti kopem U yang berdiri tahun 2019, maka senior 2019 akan dengan senang hati berbagi ilmu dengan anggota junior 2020 atau junior 2021. Dengan asumsi, makin senior seseorang, maka makin banyak ilmunya.
  • Menunjukkan eksistensi dalam Sebagai senior tentu pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki sayang jika dipakai sendiri dan hilang ditelan zaman. Lain halnya, jika ilmu diajarkan kemudian bermanfaat bagi orang lain, paling tidak junior tadi akan menyebut nama seniornya suatu hari nanti. Ilmu ini saya dapatkan dari senior saya si A.
  • Mendapatkan penghargaan sosial dari komunitas. Penghargaan bisa berupa dimajukan selangkah dalam berdiskusi, diminta dan didengarkan pendapatnya, diberikan kemudahan dan fasilitas dalam komunitas.
  • Berbagi untuk perkembangan ilmu. Pada saat senior mencapai tahapan kebijaksanaan, maka berbagi ilmu kepada junior tidak lagi dilandasi pada uang. Cukup diberikan wadah untuk berbagi dengan sesama anggota komunitas yang memiliki kesepahaman visi dan pola pikir.
  MENARIK ORANG MENJADI ANGGOTA KOMUNITAS Pertama tentu kesepahaman visi dan pola pikir mengenai tujuan dibentuknya komunitas ini. Peran founder dan co-founder sangat dominan untuk menyeleksi calon anggota. Tidak setiap orang bisa menjadi anggota komunitas ini, hanya mereka yang memenuhi syarat dan ketentuan dari komunitas. Dan untuk memenuhinya, perlu perjuangan dan pembuktian kelayakan diri. Kenapa harus capek berusaha masuk dalam komunitas ini? Balik lagi pada kekuatan visi dan pola pikir dalam membentuk komunitas. Manfaat yang diperoleh anggota jauh lebih besar dari perjuangannya. Apakah tidak menjadi ekslusif komunitasnya? Nah inilah yang menarik. Komunitas harus bisa menujukkan kemanfaatannya bagi anggota yang ada agar bisa menarik anggota baru. Ekslusifitas komunitas terbentuk karena besarnya manfaat yang diberikan pada anggota Bagaimana dengan orang yang biasa saja ingin masuk komunitas? Sebaiknya bergabunglah dengan komunitas yang sesuai dengan level ilmu kita, agar penyerapan ilmunya dapat maksimal. Ibarat anak SMP masuk komunitas anak SMA, atau anak SMA masuk komunitas anak kuliahan. Jika tidak ada komunitas sesuai level ilmu kita, maka ajaklah teman teman yang selevel untuk buat sebuah komunitas pembelajar (kopel).   JALANNYA OPERASIONAL KOMUNITAS PEMBELAJAR Konsep Mencari Ilmu tanpa Keluar Uang yang dibahas diatas adalah dengan membentuk komunitas pembelajar (kopem). Dalam menjalankan komunitas ini tentunya butuh biaya (dibacanya: uang), tanpa uang makan kebutuhan anggota (kebutuhan primer : sandang, pangan, papan) tidak bisa terpenuhi. Tentunya kita tidak bisa hidup hanya dengan ilmu yang banyak, tanpa ada uang.  Betul jika berpikir hidup untuk mencari uang, bukan mencari ilmu. Diluar sana, ada sekelompok orang yang tidak mau repot ikut dalam komunitas pembelajar yang eksklusif dengan syarat dan ketentuan tertentu. Tapi mereka butuh ilmu. Dan kita punya ilmunya. Pada saat inilah ilmu yang dimiliki bisa dimonetisasi sesuai kebutuhan dari pencari ilmu. Anggota komunitas adalah pakar dibidangnya karena sudah terasah dalam diskusi dan sharing ilmu antar sesama anggota.  Manusia yang berilmu akan ditinggikan derajatnya dimata manusia lainnya, selama dia mau berbagi ilmunya tersebut (dengan cara yang benar). Menuntut ilmu itu perlu guru, dan guru juga manusia yang punya kebutuhan hidup. Ketika guru sudah berbagi ilmu kepada muridnya, maka kewajiban murid untuk memenuhi kebutuhan hidup gurunya.