Tulisan dimuat di Harian Medan Bisnis Edisi Senin, 17 Juli 2017 – http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2017/07/17/310627/mikroba-kendalikan-patogen-tular-tanah/#.WXVki0rpsP0.link

Oleh : Henny Hendarjanti

Ganoderma boninense penyebab penyakit busuk pangkal batang (BPB) pada tanaman kelapa sawit merupakan cendawan patogen tular tanah. Keberadaannya dipengaruhi beberapa faktor yang sangat kompleks. Cendawan ini mempunyai kemampuan saprofitik yang sangat tinggi dan parasit fakultatif yang sangat luas. Selain itu, juga memiliki beberapa macam struktur patogen untuk bertahan hidup seperti miselia resisten, basidiospora dan klamidiospora, sehingga tidak kesulitan mendapatkan makanan untuk membangun inokulum yang cukup banyak.

“Karena itulah cendawan ini mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya dan menginfeksi tanaman,” ucap Spesialist Plant Protection Management PT Astra Agro Lestari Henny Hendarjanti kepada MedanBisnis.

Tindakan pencegahan dengan pengendalian hayati yang dimulai sejak pembibitan dan penggunaan tanaman toleran menurut Henny, menjadi alternatif pengendalian yang berpeluang baik. Pengendalian ganoderma yang fenomenal dan menjadi momok di perkebunan kelapa sawit ini, menurut Henny, melalui pendekatan perbaikan tanah. Yaitu, dengan memanfaatkan mikroba-mikroba yang bermanfaat bagi kesehatan lingkungan tanah sekaligus sebagai musuh dari cendawan patogen itu sendiri.

Beberapa cendawan yang dikenal sebagai antagonis terhadap ganoderma, adalah Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. Kedua cendawan tersebut bersifat antagonistik menghambat pertumbuhan cendawan patogen tular tanah, yang mampu melilit benang cendawan ganoderma dan mengeluarkan enzim untuk mengurai senyawa kimia pada benang cendawan sehingga unsur karbonnya dapat diambil. Reaksi inilah yang menyebabkan ganoderma mati.

Aplikasi Trichoderma sp. dan bahan organik pada saat pembibitan kelapa sawit awal (pre nursery) menurutnya, dapat menekan pertumbuhan ganoderma. Jika dilakukan aplikasi ulang pemberian Trichoderma sp. pada saat tanam, mampu menekan kejadian infeksi ganoderma sampai 0,06% pada umur tanaman empat tahun pada areal endemik ganoderma sebelum peremajaan. Artinya, jika hanya Trichoderma sp. tunggal yang diberikan masih ada peluang ganoderma untuk menginfeksi. Karena itu, pengendalian ganoderma perlu dilakukan terpadu dimulai dengan tindakan sanitasi dan eradikasi sumber inokulum terutama saat peremajaan kelapa sawit dan perlunya kombinasi agensia hayati pengendali hayati agar diperoleh pengendalian yang efektif dan ekonomis.

Mikroba lain yang sinergis dalam pengendalian ganoderma adalah cendawan mikoriza arbuskular (FMA). Aplikasi cendawan ini pada pembibitan kelapa sawit dapat meningkatkan ketahanan tanaman kelapa sawit terhadap cekaman patogen tular tanah.

Tanaman yang bermikoriza memiliki lignifikasi yang tinggi dalam xilem, juga sistem vaskular yang lebih kuat akan meningkatkan aliran hara, memperbesar kekuatan mekanis dan mengurangi efek dari patogen. Pemberian mikoriza pada pembibitan yang dilakukan secara sinergis bersama dengan pemberian trichoderma sp./gliocladium sp. menurut Henny, akan meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan patogen tular tanah.

“Berdasarkan hasil pengamatan dan penelitian kami, pemberian kedua cendawan bermanfaat tersebut akan mencegah penetrasi inokulum ganoderma untuk menginfeksi, sampai pada tanaman kelapa sawit menjelang TM-2, mikoriza telah mengkolonisasi akar > 80% yang menjadikan pertahanan dari tanaman terhadap serangan patogen tular tanah,” jelasnya. (edward bangun)