CARA OTAK MERESPON INFORMASI DARI PANCA INDERA

Oleh : Friyandito

Semangat pagi…

Salam Planter Indonesia Hebaaat

 

Kita lanjut kan lagi artikel seputaran otak ini 😂

Menarik untuk dibahas lebih lanjut, dan cukup menantang bagi penulis yang masih memiliki keterbatasan dalam ilmu neuro science.

Dari mulai kita lahir, informasi – informasi yang dikirim dari panca indera disimpan dalam neuron – neuron otak kita, dan penyimpanan informasi ini masih terus berlanjut selama kita masih hidup. Informasi yang telah ada diotak kita mencerminkan pengalaman masa lalu. Informasi yang terhubung, dan terhubung, dan terhubung lagi sehingga menjadi kesatuan yang dominan.

Diibaratkan kita membangun rumah didaerah pedalaman.

Awalnya hanya ada beberapa rumah.

Seiring waktu jumlah rumahnya terus bertambah dan bertambah.

Antara satu rumah dan rumah lain terjadi interaksi, lalu bersepakat membentuk sebuah desa. Tentu akan ada pro dan kontra saat membentuk desa. Yang dominan akan menang dan mengendalikan pemerintahan desa, dan yang minoritas tetap ada didesa tersebut walaupun tidak aktif dipemerintahan.

Pemerintahan desa inilah yang disebut dengan cara berpikir otak atau pola pikir, dibentuk oleh informasi – informasu yang dominan ada diotak kita.

 

RESPON OTAK TERHADAP INFORMASI BARU

Informasi baru yang masuk ke otak kita akan mengalami 3 perlakuan.

  1. Informasi yang sinergi, artinya informasi baru ini mendukung informasi dominan sebelumnya yang telah ada.
  • mendukung pemerintahan desa
  • memperkuat keyakinan (belief)
  1. Informasi yang bertentangan (kontradiktif), yaitu informasi baru yang bertolak belakang dengan informasi dominan sebelumnya.
  • menentang pemerintahan desa.
  • membangun perlindungan diri (auto self defense) atau perbaikan diri.
  1. Informasi yang abu abu
  • Ibarat rumah baru yang tidak mendukung atau tidak menentang pemerintahan desa. Berdiri sendiri sebagai kesatuan baru.

Dalam otak kita contohnya adalah inovasi yang tidak dipahami atau tidak dimengeri oleh pengalaman masa lalu yang dominan, seperti mesin waktu, UFO (unindentified flying object) dll.

 

Lalu bagaimana dengan informasi yang abu – abu?

Informasi yang abu – abu ibarat rumah ditengah hutan yang baru terhubung melalui jalan setapak ke rumah rumah yang lain. Artinya untuk mengakses rumah (= informasi tersebut) butuh pengorbanan.

Diperlukan informasi tambahan dari kejadian baru yang bisa memperkuat hubungan (= jalan atau sinaps) dari informasi abu abu tadi dengan pengalaman masa lalu.

 

PERSEPSI atau KERANGKA BERPIKIR (FRAME OF MIND)

Ada kecenderungan otak untuk mempercepat penerimaan informasi yang sinergis dan memperlambat penerimaan informasi yang bertentangan (kontradiktif). Informasi yang sinergis dilakukan secara berulang – ulang menjadi cikal bakal persepsi atau kerangka berpikir. Persepsi ini menjadi panduan bagi otak dalam memberikan instruksi kepada saraf dan otot organ tubuh, termasuk instruksi kepada panca indera.

 

Si A melihat si B sedang main layangan disiang hari.

Informasi ini masuk ke otak si A dan diolah oleh otaknya.

Muncul respon dari otak si A, main layangan sangatlah menyenangkan.

Si A sering sekali bermain layangan sebelumnya, lalu mendekati si B utk ikut main layangan.

 

Si C melihat si B sedang main layangan disiang hari.

Informasi ini masuk ke otak si C dan diolah oleh otaknya.

Muncul respon dari otak si C, bermain disiang hari cuaca panas bikin tidak nyaman.

Si C tidak pernah main layangan apalagi bermain diterik matahari sebelumnya, sehingga hanya melihat dari kejauhan ditempat teduh.

 

Kejadiannya sama : si B sedang main layangan disiang hari.

Respon si A berbeda dengan respon si C.

Respon yang diberikan oleh otak inilah yang dinamakan PERSEPSI.

 

Pertanyaannya, apakah mungkin persepsi saya dan persepsi dia 100% bisa sama?
Jawabnya adalah tidak mungkin 100%.

Tapi memungkinkan 99% atau lebih rendah persentasenya.

Karena pengalaman dimasa lalunya berbeda.

 

PERSEPSI vs KEYAKINAN

Persepsi sifatnya sementara sampai ada informasi baru yang berulang kemudian menggeser persepsi lama menjadi persepsi baru.

Ketika si C memaksakan diri mendekati si B dan ikut bermain layangan disiang hari, maka akan ada informasi baru dari pengalaman bermain layangan disiang hari.

“Ternyata enak juga bermain layangan ya”, inilah contoh pergeseran persepsi dari si C.

Pertanyaannya, apa yang menyebabkan si C memaksakan diri mendekati si B?

Jawabannya adalah value atau nilai nilai diri, bisa value yang merupakan fitrahnya manusia (digerakkan oleh jiwa atau ruh) atau value yang ditanamkan didalam diri kita (biasanya value dari orang tua).

Untuk mempelajari fitrah manusia, paling mudah adalah dengan mengamati tindakan pertama kalinya yang dilakukan oleh seorang anak balita (bawah lima tahun).

Tidak pernah lihat contohnya, tidak pernah ada yang mengajarkannya, tapi balita bisa dengan sendirinya.

Contohnya : tengkurep – merangkak – berdiri – melangkah – berlari – melompat dan sebagainya.

Sudah menjadi fitrahnya, manusia adalah pembelajar sejati.

Persepsi yang mendapatkan pembenaran dari nilai – nilai diri (value) akan membentuk sebuah KEYAKINAN (BELIEF).

Keyakinan ini lebih sulit dirubah dibandingkan persepsi.

Untuk merubah keyakinan seseorang, perlu merubah persepsinya terlebih dahulu, dan dilanjutkan dengan merubah nilai – nilai diri yang dianutnya.

Menarik untuk dibahas selanjutnya adalah bagaimana pikiran bisa mempengaruhi perasaan dan emosi kita.

Demikian artikel ini disampaikan dengan segala keterbatasan dari penulis.

Salam Perubahan, Salam Pembelajar Sejati….

 

Sekedar info update.

Best Planter Indonesia memiliki program pelatihan online mengenai Model Pembelajaran Manusia, terkait dengan pengelolaan pikiran. Info pelatihannya dapat diakses di link berikut http://bit.ly/ModelPembelajaranManusia.