image_pdfDownload PDFimage_printPrint

ARTI PENTING TEKSTUR DAN PORI TANAH DAN PENGARUHNYA BAGI TANAMAN

Oleh: Friyandito

Semangat pagi…

Salam Planter Indonesia Hebaaat

 

Jika kita mengambil sebongkah tanah, maka kita dapat merasakan kasar halusnya butiran – butiran penyusun partikel tanah yang disebut tekstur tanah. Secara umum, tekstur tanah dikelompokkan menjadi 3 jenis, yaitu pasir, debu dan liat.

  • Pasir: berukuran 0,05 – 2,0 mm
  • Debu: berukuran 0,002 – 0,05 mm
  • Liat: berukuran < 0,002 mm

Bagaimana dengan ukuran >2,0 mm?

Ini disebut kerikil dan tidak tergolong tekstur tanah 😄

Untuk menentukan tekstur tanah dapat dilakukan dengan cara manual, yaitu memijit tanah basah di antara jari jempol dengan jari telunjuk, sambil dirasakan halus kasarnya.

  • Pasir: terasa kasar, tidak licin dan tidak melekat.
  • Debu: terasa licin dan kurang melekat.
  • Liat: terasa melekat dan tidak licin.

Butiran penyusun tanah ini pada dasarnya masih bisa terurai lagi, artinya pasir seiring waktu (beratus atau beribu tahun 😅 )bisa berubah menjadi debu, dan debu pun bisa berubah menjadi liat.

Tekstur tanah ini dapat merekat satu sama lainnya membentuk agregat tanah. Agregat tanah memiliki pola tertentu yang disebut struktur tanah. Ada agregat berpola kubus bersudut (angular blocky), berpola granular (butir), berpola prisma dan lainnya.

Bahan perekat dari agregat tanah dari yang terkuat sampai terlemah adalah getah/ lendir mikroba > Fe dan Mn Oksida > Bahan Organik > Kation. Oleh sebab itu pentingnya menjaga keberadaan aktivitas mikroba didalam tanah agar agregat tanah tetap baik.

 Agregat tanah membentuk pori – pori didalam tanah, baik pori makro maupun pori mikro.

  • Pori makro = ruang untuk udara dan air
  • Pori mikro = celah sempit antar tekstur tanah. Jika kation sempat masuk ke pori mikro, maka akan sulit untuk dilepaskan kecuali melalui proses biologis (perlu bantuan mikroba tanah).

Pentingnya menjaga agregat tanah adalah

  • Aerasi (pori udara dalam tanah)
  • Permeabilitas (kemampuan tanah dilalui atau melewatkan air) dan mencegah run-off.
  • Derajat ketahanan tanah terhadap erosi (mudah tidaknya permukaan tanah terkikis oleh air)
  • Media tumbuh tanaman (mudah tidaknya akar tanaman berkembang).

Kita bisa bayangkan, ada 3 buah toples yang berisi:

  • bola tennis ibarat pasir
  • bola pingpong ibarat debu
  • kelereng ibarat liat

Dari ilustrasi ini kita bisa melihat pori yang terbentuk (bola tennis > bola pingpong > kelereng atau pasir > debu > liat).

Hal kedua yang bisa dilihat adalah luas permukaan yang terbentuk, bisa dinilai dari jumlah benda didalam toples (kelereng > bola pingpong > bola tennis atau liat > debu > pasir).

Luas permukaan ini berpengaruh terhadap kemampuan tekstur tanah mengikat air dan mengikat kation (hara yang larut dalam larutan tanah atau liquid chemical).

Spon ini ibarat bahan organic matang didalam tanah. Spon kemampuan mengikat air dan mengikat kation lebih baik dibandingkan liat.

Jika di tekstur liat, kation yang masuk ke pori mikro tidak bisa dilepas lagi, maka pada spon ini kation dapat dilepas atau dapat ditukar.

Jika di tekstur liat, air menempel dipermukaan, maka di spon air bisa masuk kedalamnya (mampu mengikat air 13x berat keringnya, Jika berat keringnya = 10 gram, maka spon ini mampu mengikat air setara berat 130 gram).

Kemampuan tekstur tanah melakukan pertukaran kation yang menempel dipermukaannya disebut kapasitas tukar kation (KTK).

Kapasitas tukar kation sering disalahartikan luas pemukaan partikel tanah. Sebenarnya KTK hanya terjadi pada permukaan partikel tanah di pori makro yang bisa dilewati air. Oleh sebab itu, keberadaan air sangat vital didalam tanah.

Demikian artikel kali ini. Kita akan lanjutkan artikelnya dengan judul Mengukur Persentase Tekstur Tanah (Pasir, Debu, Liat) dan Interpretasi Hasil Pengukurannya.

 

Salam Perubahan, Salam Pembelajar Sejati….

Artikel lainnya bisa diakses di www.bestplanterindonesia.com