Oleh : Friyandito, SP, MM

(Alumnus Jurusan Tanah dan MMA IPB, Praktisi Perkebunan Kelapa Sawit).


Bisnis sawit menjadi primadona di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan bisnis sawit menjadi penyumbang devisa terbesar bagi negara tahun 2016 mengalahkan sektor pariwisata dan migas. Menurut Bambang Brodjonegoro, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasionan (PPN)/Kepala Bappenas, Industri sawit berperan penting kepada kesejahteraan masyarakat (sumber : sawitindonesia.com). 

Berikut urutan sumber devisa negara tahun 2016.

No. Sumber Devisa Nilai
1 Ekspor Kelapa Sawit Rp 239 triliun
2 Jasa Parisiwasata (Turis Asing) Rp 190 triliun
3 Eskpor Tekstil Rp 159 triliun
4 Ekspor Migas Rp 170 triliun
5 Ekspor Batubara Rp 150 triliun
6 Jasa TKI Rp 140 triliun
7 Ekspor Elektronik Rp 80 triliun
8 Ekspor Hasil Kayu Hutan Rp 70 triliun
9 Ekspor Karet Rp 65 triliun
10 Ekspor Sepatu dan Sandal Rp 60 triliun

Sumber : strategimanajemen.net

Melihat kondisi diatas, kita menjadi penasaran, seberapa prospektifkah bisnis sawit tersebut ? Artikel berikut ini membahas secara sederhana analisa usaha bisnis sawit dan tren perkembangannya.

Berbicara prospek tidak lepas dari perhitungan margin usaha yang bisa diperoleh, yaitu selisih antara penjualan vs biaya – biaya.

  1. PERHITUNGAN PENJUALAN PRODUK SAWIT.

Produk – produk hasil olahan sawit yang memiliki nilai ekonomis adalah :

  1. Tandan Buah Segar (TBS)

Kisaran harganya berfluktuasi dalam rentang : Rp 800 – Rp 2.000 dengan rata – rata dibesaran harga Rp 1.500.

Kisaran produksi tergantung pada :

  • Jenis bibit
  • Kelas kesesuaian lahan
  • umur tanaman.

Dalam hal ini, kita menggunakan referensi bibit PPKS Marihat Generasi 1

Tahun Ton/Ha/Thn TBS % Rendemen
  Kelas S1 Kelas S2 Kelas S3 CPO Kernel
3 9.00 7.30 6.20 15.00 4.50
4 15.00 13.50 12.00 17.00 4.80
5 18.00 16.00 14.50 19.00 5.10
6 21.10 18.50 17.00 21.00 5.40
7 26.00 23.00 22.00 23.00 5.70
8 30.00 25.50 24.50 24.00 6.00
9 31.00 28.00 26.00 24.00 6.00
10 31.00 28.00 26.00 24.00 6.00
11 31.00 28.00 26.00 24.00 6.00
12 31.00 28.00 26.00 24.00 6.00
13 31.00 28.00 26.00 24.00 6.00
14 30.00 27.00 25.00 24.00 6.00
15 27.90 26.00 24.50 24.00 6.00
16 27.10 25.50 23.50 24.00 6.00
17 26.00 24.50 22.00 24.00 6.00
18 24.90 23.50 21.00 24.00 6.00
19 24.10 22.50 20.00 24.00 6.00
20 23.10 21.50 19.00 24.00 6.00
21 21.90 21.00 18.00 24.00 6.00
22 19.80 19.00 17.00 24.00 6.00
23 18.90 18.00 16.00 24.00 6.00
24 18.10 17.00 15.00 24.00 6.00
25 17.10 16.00 14.00 24.00 6.00

Dari potensi genetis kelas S3 tahun ke 10 sebesar 26 ton/ha, realisasi produksi misalkan hanya 22 ton/ha (85% potensi).

Maka hitungan penjualan TBS per Ha adalah :

22 ton/ha x Rp 1.500.000/ton/thn = Rp 33.000.000/ha/thn.

Atau Rp 2.750.000/ha/bulan.

 

  1. Crude Palm Oil (CPO)

Dibawah ini disajikan harga CPO domestic mulai tahun 2007 – 2016.

Dalam 10 tahun terakhir, harga CPO berfluktuasi dari kisaran Rp 4.500/kg – Rp 10.000/kg. Ditahun 2017 ini, rata-rata harga CPO dibesaran Rp 8.000/kg.

Berapa kg produksi CPO per ha luasan lahan ?

Asumsi point 1 untuk realisasi produksi tandan buah segar adalah 22 ton/ha.

Potensial rendemen = 24%, misalkan actual rendemen = 20.5%

Produksi CPO/ha = 22 ton/ha TBS x 20.5% CPO/TBS = 4,51 ton CPO.

Maka hitungan penjualan CPO per Ha adalah :

4,51 ton/ha x Rp 8.000.000/ton/thn = Rp 36.080.000/ha/thn.

Atau Rp 3.006.666/ha/bulan.

 

  1. Crude Palm Kernel Oil (CPKO)

Kisaran harga kernel berfluktuasi dalam rentang : Rp 6.000 – Rp 8.000 dengan rata – rata dibesaran harga Rp 6.500.

Dari asumsi jenis bibit Marihat generasi 1, dan umur tanaman 10 tahun, maka potensi rendemen CPKO 6%, sedangkan aktual dimisalkan 4,5%.

Produksi CPKO/ha = 22 ton/ha TBS x 4.5% CPKO/TBS = 0,99 ton CPKO.

Maka hitungan penjualan CPKO per Ha adalah :

0,99 ton/ha x Rp 6.500.000/ton/thn = Rp 6.435.000/ha/thn.

Selain tiga produk utama yang biasa dijual, masih ada produk – produk sampingan lainnya yang bisa menjadi pendapatan dalam bisnis sawit, seperti janjang kosong (jankos), cangkang (tempurung), ampas (fiber) dan lainnya.

 

  1. PERHITUNGAN HARGA POKOK PRODUKSI (HPP).

Biaya yang dikeluarkan dalam bisnis kelapa sawit, secara garis besar dibagi menjadi 3 kelompok besar, yaitu :

  • Biaya head office.
  • Biaya kebun.
  • Biaya pabrik kelapa sawit (PKS).

 

BIAYA HEAD OFFICE

Biaya yang tergolong biaya umum yang tidak bisa dibebankan ke akun biaya kebun atau akun biaya pabrik.

Contohnya : biaya perolehan lahan, biaya investasi, biaya umum group (dividen, transaksi bank) dan lainnya.

 

BIAYA KEBUN

Biaya kebun menjadi patokan harga pokok produksi (HPP) yang bisa dibandingkan dengan harga jual TBS untuk mengetahui margin penjualan.

 

Jika harga jual TBS > HPP à untung

Jika harga jual TBS < HPP à rugi

Idealnya, harga jual TBS : HPP minimal 1,4 (Analisa B/C ratio).

 

Struktur akun biaya perhitungan HPP secara sederhana disajikan berikut ini.

Group Akun Rp/kg TBS
A. Biaya Produksi 700
1.      Biaya Perawatan 100
2.      Biaya Pemupukan 400
3.      Biaya Panen 100
4.      Biaya Angkutan Panen 50
5.      Biaya Umum Site 50
   
B. Biaya HO 100
1.      Alokasi Biaya HO 70
2.      Alokasi Biaya RO 0
3.      Depresiasi Aset 20
4.      Amortisasi 10
   
C. Biaya Central Service 50
1.      Biaya Pembibitan 30
2.      Biaya training center 20
   
D. Biaya Pengadaan Aset 300
1.      Infrastuktur 100
2.      Bangunan 50
3.      Alat berat dan Kendaraan 120
4.      Peralatan kerja dan Mesin. 20
5.      Perlengkapan rumah dan kantor 10
   
TOTAL 1.150

Untuk bisa mendapatkan nilai Rp/kg TBS, harus diketahui terlebih dahulu :

  • Target tonase penjualan TBS (kg).
  • Besaran rupiah per masing – masing group akun.

Misalkan harga penjualan TBS = Rp 1.500/kg

Harga pokok produksi = Rp 1.150/kg

Analisa B/C ratio = 1500 : 1150 = 1.30 à Tidak sesuai untuk disetujui.

 

Kenapa ?

Asumsi sederhananya, investor akan mau menanam modal di kebun apabila B/C ratio minimal 1,4 (dibanding dengan deposito yang bunga bank mencapai 15% per tahun atau 1.15 dan faktor resiko fluktuasi harga dan fluktuasi produksi).

Oleh sebab itu, Direksi akan minta pengurangan biaya HPP agar B/C ratio mencapai 1.4, sehingga HPP dipatok maksimal sebesar Rp 1.072/kg TBS.

Tinggal Manager kebun yang menghitung ulang, akun mana yang harus dikurangi agar anggarannya turun dari Rp 1.150/kg menjadi Rp 1072/kg.

Secara ilmu akuntansi, perhitungan HPP sebenarnya hanya untuk biaya produksi saja yaitu sebesar Rp 700/kg. Tetapi untuk menjamin kelancaran arus kas dan ketersediaan dana menjalankan seluruh bisnis kebun, maka nilai Rp 1150/kg yang dijadikan patokan total biaya.

 

BIAYA PABRIK KELAPA SAWIT (PKS)

Biaya pabrik secara garis besar dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu :

  • Biaya langsung, terkait dengan pengolahan TBS di masing – masing station
  • Biaya tidak langsung.
  • Biaya depresiasi asset
  • Biaya pengadaan asset.

Gambaran biaya olah pabrik disajikan sebagai berikut :

Group Akun Rp/kg TBS Rp/kg CPO Rp/kg CPKO
Biaya langsung 65 – 85

Rata – rata : 75

300 – 400

Rata – rata : 350

1.100 – 1.600

Rata – rata : 1.300

Biaya tidak langsung 20 – 35

Rata – rata : 25

110 – 150

Rata – rata : 120

410 – 440

Rata – rata : 420

Biaya depresiasi asset 14 – 19

Rata – rata : 15,5

67 – 92

Rata – rata : 75

250 – 345

Rata – rata : 275

Biaya pengadaan asset. 20 – 30

Rata – rata : 27

93 – 152

Rata – rata : 130

350 – 570

Rata – rata : 420

Total Biaya Rata – rata : 142,5 Rata – rata : 675 Rata – rata : 2.415

 

Besaran biaya olah untuk 22 ton/ha TBS disajikan sebagai berikut :

Pembelian TBS 22 ton x Rp 1.500.000/ton Rp 33.000.000
Olah TBS 22 ton x Rp 142.500/ton Rp   3.135.000
  Total   Rp 36.135.000

 

  1. MARGIN BISNIS SAWIT

Ada beberapa kondisi yang bisa diasumsikan untuk menghitung margin bisnis sawit.

  1. Pebisnis yang hanya punya kebun, dan menjual hasil panennya ke PKS.
Harga jual TBS Rp 1500/kg x 22 ton/ha/thn Rp 33.000.000/ha/thn
HPP Produksi TBS Rp 1150/kg x 22 ton/ha/thn Rp 25.300.000/ha/thn
Margin usaha              Rp   7.700.000/ha/thn

           

  1. Pebisnis dipercaya mengelola PKS saja
Pengeluaran :   Rp 36.135.000/ha/thn
Harga beli TBS Rp 1500/kg x 22 ton/ha/thn Rp 33.000.000/ha/thn
Biaya Olah TBS Rp 142.500/ton x 22 ton/ha Rp   3.135.000/ha/thn
     
Penjualan :   Rp 42.515.000/ha/thn.
CPO 22 ton/ha TBS x 20.5% CPO/TBS = 4,51 ton CPO.

4,51 ton/ha x Rp 8.000.000/ton/thn.

Rp 36.080.000/ha/thn.
CPKO 22 ton/ha TBS x 4.5% CPKO/TBS = 0,99 ton CPKO.

0,99 ton/ha x Rp 6.500.000/ton/thn .

Rp    6.435.000/ha/thn.
Margin Usaha   Rp 6.380.000/ha/thn

17,6%  pengeluaran.

 

  1. Pebisnis dipercaya mengelola Kebun dan PKS
Pengeluaran :   Rp 28.435.000/ha/thn
Harga beli TBS Rp 1150/kg x 22 ton/ha/thn Rp 25.300.000/ha/thn
Biaya Olah TBS Rp 142.500/ton x 22 ton/ha Rp   3.135.000/ha/thn
     
Penjualan :   Rp 42.515.000/ha/thn.
CPO 22 ton/ha TBS x 20.5% CPO/TBS = 4,51 ton CPO.

4,51 ton/ha x Rp 8.000.000/ton/thn.

Rp 36.080.000/ha/thn.
CPKO 22 ton/ha TBS x 4.5% CPKO/TBS = 0,99 ton CPKO.

0,99 ton/ha x Rp 6.500.000/ton/thn .

Rp    6.435.000/ha/thn.
Margin Usaha   Rp 14.080.000/ha/thn

49,5%  pengeluaran.

Keterangan :

Harga beli TBS disamakan dengan harga HPP Kebun.

 

Jadi, terlihat bahwa bisnis sawit ini menguntungkan kan. Sudah selayaknya industri sawit menjadi primadona sebagai industry strategis di Indonesia.

 

Referensi :