Oleh : Friyandito, SP. MM (Praktisi Diklat Sawit)

Fenomena umum di kebun sawit pasca lebaran adalah pusingan tinggi.

Hal ini bisa disebabkan pabrik kelapa sawit (PKS) libur terima buah minimal 1 minggu. Begitu PKS mulai operasional lagi, masalah ini bisa diselesaikan. Kondisi lain saat libur lebaran, pemanen juga berlebaran dengan pulang kampung. Dan balik kerja lagi setelah 2 minggu sampai 1 bulan setelah lebaran. Nah, ini baru tantangan !

Secara logika, sebulan setelah lebaran, kondisi panen berangsur normal. Butuh 1 -2 bulan untuk menjadikan pusingan panen ideal yaitu 6 / 7. Tapi, manajemen tidak bisa bersabar selama 2 bulan menunggu pusingan ideal. Belum lagi efeknya ke kualitas CPO, yaitu naiknya Free Fatty Acid (FFA) dari ideal 3,0 menjadi mendekati 4,5. Belum lagi kondisi lapangan brondolan yang melimpah dan berpotensi tumbuhnya tukulan (anakan sawit).

Pengalaman penulis saat masih dilapangan, Asisten Afdeling dihadapkan pada dilema :

  • Jika menambah karyawan panen, sebulan kemudian karyawan lama balik ke kebun, maka jumlah karyawan panen menjadi berlebih (over).
  • Jika memborongkan kerjaan panen, tentunya kontaktor memakai aji mumpung meminta harga yang cukup tinggi, karena merasa dibutuhkan.
  • Jika dikeroyok pekerja rawat atau keluarga pemanen, tentunya produktivitasnya tidak sebaik pekerja panen, sehingga biaya panen menjadi naik.

Sebenarnya solusinya ada di keberanian Asisten untuk menggeser mindset pusingan panen.

PUSINGAN PANEN KONDISI NORMAL 6/7

Pada pusingan panen system 6/7, pemanen selalu diminta panen pada hari ke-7 (arsiran warna hitam), sesuai kaveld panennya selesai dalam 1 hari. Besoknya, kaveld tersebut pusingan panennya berubah menjadi 1 hari.

  • Jumlah karyawan pun disetting berdasarkan system 6/7, yaitu normative 2,5 Ha/HK atau 15 Ha/kaveld.
  • Untuk luasan 261 Ha kemandoran A dibutuhkan pemanen +/- 18 orang.
  • Jika kemampuan rata-rata panen adalah 1,7 ton/HK/hari, maka produksi kemandoran per hari adalah 30,6 ton, dengan BJR 20 kg/janjang setara dengan 1.530 janjang.
  • Luasan kemandoran 261 Ha dengan system 6/7, rata-rata sehari panen seluas 43,5 Ha. Dengan SPH 136 pokok/ha, maka jumlah pokok di areal panen adalah 5.916 pokok. Angka kerapatan panen (AKP) adalah 1 : 4.

PUSINGAN PANEN SETELAH LEBARAN

Setelah lebaran, kondisi pusingan panen pun berubah.

  • Angka kerapatan panen (AKP) minimal 1 : 2, dengan pusingan panen berkisar di 15 hari.

(Kondisinya 2x lipat kondisi normal).

Secara logika, jika jumlah karyawan panen ditambah 2x lipat, atau waktu kerja panen dijadikan 2x lipat (ini solusi yang tidak mungkin sehari pemanen bekerja 16 jam), maka dalam 1 rotasi panen kondisi pusingan panen sudah normal lagi.

Jika manajemen kebun tetap mempertahankan pola yang sama, dan menambah tenaga kerja sedikit + menambah ekstra waktu kerja (seperti kontanan minggu), maka table diatas mencerminkan penurunan pusingan panen dalam 1 bulan, yaitu dari 15 hari menjadi 12 hari.

Pada akhir bulan ke-2 baru pusingan turun mendekati  8 – 9  hari, dan awal bulan ke-3 baru pusingan normal di 7 hari.

CARA CERDIK MEMUTUS PUSINGAN PANEN PANJANG

Cara ini out of the box, sehingga perlu komitmen dan koordinasi dengan pimpinan kebun sebelum dilaksanakan, supaya ada pembelaan atas isu yang berkemungkinan dihembuskan orang – orang yang tidak paham kondisi lapangan saat itu.

Prinsip kerjanya :

  1. Jika pusingan ideal 6/7 AKP nya 1 : 4, maka setelah lebaran pusingan menjadi 15 dan AKP 1 : 2. Panenlah di AKP minimal 1 : 4 atau 1 : 5, sehingga bisa kejar pusingan.

Secara sederhana, panenlah di pusingan 5 hari atau 6 hari, jika perlu 4 hari.

Pada pusingan 5 hari, AKP nya 1 : 5.

Untuk dapat 1.700 kg/HK : BJR 20 kg/janjang = 85 janjang

85 janjang : AKP (1 : 5) = 425 pokok

425 pokok : 136 pokok/ha = 3,1 Ha.

Targetnya : kaveld hari itu dapat diperluas dari standar 1 HK = 2,5 Ha menjadi 1 HK +/- 3,0 Ha.

Dengan AKP lebih jarang, tentunya butuh areal panen lebih luas agar hasil panen per hari tetap mencapai 1,7 ton/HK.

Tidak ada extra cost pada penerapan prinsip 1 ini. Hanya perlu komitmen dari mandor untuk menggiring pemanen yang sudah selesai kaveldnya agar pindah kaveld.

Khawatir panen buah bangdun (mengkal) ?

Perlu koordinasi dengan PKS agar toleransi dalam sebulan untuk menormalkan pusingan panen kebun sekaligus menjaga FFA.

  1. Urutan kaveld panen akan loncat – loncat sesuai progress kerja. Hal ini menjadi konsekuensi logis agar prinsip 1 diatas bisa dijalankan. Pastikan kaveld yang dikerjakan benar benar tuntas sebelum pindah ke kaveld lain. Supaya tidak ada buah tertinggal dan menjadi overripe.

Targetnya : Semakin banyak blok yang bisa diamankan pusingan dibawah 7 hari, semakin baik.

  1. Ada blok yang seakan-akan “dikorbankan”. Untuk hal inilah perlu komitmen dan koordinasi dengan pimpinan kebun.

Pada minggu ke-4, pusingan panen blok “dikorbankan” adalah 36 hari (tapi blok lainnya sudah normal dipusingan maksimal 7 hari). Kondisi 36 hari ini menjadi bola panas yang rawan dikipasi menjadi api. Dengan komitmen pusingan berikutnya sudah normal maksimal 7 hari, semuanya akan berakhir indah.

4. Setelah semua blok dalam kondisi normal, barulah kembalikan kaveld panennya sesuai kondisi ideal.

 

Selamat mencoba dan semoga berhasil sesuai harapan.

Untuk konsultasi dan berbagi ilmu sesame Planter dapat menghubungi Best Planter Indonesia (BPI) via WA 0812 1997 193 (Dito) atau email : bpi@bestplanterindonesia.com.

Kami tunggu artikel menarik dari rekan – rekan Planters untuk diposting di www.bestplanterindonesia.com.

 

Ucapan terima kasih penulis kepada :

  • Senior Planter, Bp. Sutyo S. atas sharing ilmunya waktu itu tentang pusingan panen.