NOGAN – INTEGRATED GANODERMA CONTROL atau NOGAN-IGC adalah nama konsep Pengendalian Ganoderma Terpadu yang ditawarkan PT Mitra Sukses Agrido yaitu perusahaan principle sekaligus pemegang paten produk-produk berbasis bio yang produknya didesain khusus untuk menjawab persoalan-persoalan tanaman sawit di Indonesia. Konsep pengendalian versi NOGAN-IGC dapat dijelaskan sbb :

A. Tindakan Penanggulangan
Tindakan ini dimaksudkan untuk mengurangi resiko kerusakan, sehingga persentasi kematian tanaman bisa ditahan dan tidak meluas ke tanaman yang masih sehat yaitu dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Langkah pertama memberikan perlakuan biokontrol Trichoderma tidak hanya kepada tanaman yang sakit tetapi dilakukan terhadap seluruh tanaman, terutama tanaman yang sehat dengan tujuan agar populasi musuh alami tersedia cukup untuk menahan penetrasi jamur patogen Ganoderma ke batang tanaman yang masih dalam katagori sehat.

2. Langkah kedua dalam rangka menambah bahan organik dan mikroba bermanfaat, maka semua biomasa janjang kosong agar diaplikasi dalam bentuk kompos keseluruh lahan dengan dosis sesuai dengan jumlah janjang kosong yang dihasilkan.

3. Langkah ketiga dalam upaya mengurangi tekanan terhadap perkembangan populasi mikroba tanah, maka agar dilakukan substitusi sebagian pupuk kimia dengan pupuk-pupuk bio yang berkualitas dengan nilai pH tinggi, agar dapat meningkatkan efisiensi serapan hara.

B. Tindakan Pencegahan
Tindakan ini dilakukan agar tidak terjadi lagi serangan masif Ganoderma dilahan yang akan dilakukan tanaman ulang atau replanting dengan langkah-langkah sbb :

Kosep T-10
10 tahun sebelum replanting, harus mulai fokus terhadap perbaikan dan penyehatan lahan secara terus menerus dan terprogram seperti yang dilakukan pada langkah-langkah yang telah disebutkan pada “tindakan penanggulangan” diatas. Tujuan dari konsep ini adalah memastikan media tumbuh (tanah) pada saat tanam ulang (T-0) benar-benar jauh lebih baik dibandingkan tanpa ada upaya perbaikan apapun terhadap lahan yang akan di replanting.

Konsep T-0
Pada tahapan ini langkah penting yang harus dilakukan adalah sbb :

1. Aplikasi Trichoderma sejak di pembibitan baik Pre Nursery (PN) maupun Main Nursery (MN)
2. Aplikasi Trichoderma di lubang tanam
3. Aplikasi Trichoderma di perawatan TBM dan TM secara periodik

Catatan penting !!!
Teknik replanting harus digunakan Best Practices yang terkini yang dikeluarkan oleh institusi yang kredibel baik pemerintah maupun swasta.

Agar menggunakan bibit Toleran Ganoderma yang dikeluarkan oleh sumber benih yang kredibel dan terakreditasi baik pemerintah maupun swasta.

Agar menggunakan Mycoriza hanya di pembibitan dari produsen yang kredibel. Produk unggulan yang bisa digunakan lengkap dosis yang digunakan dapat dijelaskan sbb :

1. NOGAN adalah biofungisida berbasis 3 jenis Trichoderma yaitu T. Harzianum, T. Koningii dan T viride yang diformulasi menggunakan carrier yang mengandung nutrisi, hormon, enzim dan antibiotika serta dilengkapi dengan induser chitin yang merangsang Trichoderma menghasilkan enzim kitinase lebih banyak yang bermanfaat untuk menghancurkan dinding sel Ganoderma. NOGAN mengandung foodbase berkualitas tinggi yang membuat populasi Trichoderma akan meningkat sangat cepat setelah diaplikasikan dilapangan.

NOGAN selain mampu menghancurkan serangan Ganoderma selama masih diperakaran, juga membuat tanaman lebih cepat recovery menjadi vigor atau kuat dan sehat.

Infeksi Ganoderma yang sudah terjadi sampai batang tanaman, Trichoderma tidak mampu mengejar ke batang karena makanannya adalah C-organik yang ada di tanah. Oleh karena itu tindakan pengendalian dengan memberikan NOGAN pada tanaman yang masih sehat adalah tindakan yang paling bijaksana untuk selalu memastikan musuh alami Ganoderma tetap tersedia.

Hasil pengamatan perbandingan laju peningkatan Trichoderma dalam tanah antara NOGAN dengan produk sejenis :

Dosis anjuran NOGAN adalah sbb :

Pembibitan : 50-100 g
Lubang Tanam : 200-300 g
Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) : 300-400 g
Tanaman Menghasilkan (TM) : 400-600 g

Teknik Aplikasi
Aplikasi di pembibitan NOGAN dicampur langsung ke media tanaman, untuk lubang tanam cukup ditabur didasar lubang, sedangkan untuk TBM maupun TM ditabur dipiringan daerah perakaran aktif (feeding roots)

2. VERMIBIO plus adalah pupuk organik-mineral berbasis sekresi cacing tanah dan vermiwash (tonic cacing) dari jenis Lumbricus rubellus yang diperkaya dengan mineral alam seperti K, P dan Mg. VERMIBIO plus mengandung hormon pertumbuhan, unsur-unsur mikro, mikroba bermanfaat, pembenah tanah, antibiotika serta zat yang mampu menetralisir residu kimia dalam tanah.

VERMIBIO plus digunakan sebagai substitusi pupuk KIMIA sampai dengan 50%. Pupuk ini akan membangun kesuburan tanah melalui perbaikan ekosistem yang mana pada akhirnya akan meningkatkan KTK dan ketersediaan hara serta meningkatkan efisiensi penyerapan nutrisi oleh tanaman, dengan meningkatnya serapan hara, maka penggunaan pupuk KIMIA otomatis akan menurun.

 

Hasil analisa kesuburan tanah pada uji coba lahan sawit 100 ha

Dosis anjuran pemupukan VERMIBIO plus :
Pupuk Lubang : 1,0 kg/pokok
Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)

TBM 1 : 1,5 kg/pokok/th + 50% pupuk KIMIA
TBM 2 : 2,0 kg/pokok/th + 50% pupuk KIMIA
TBM 3 : 2,5 kg/pokok/th + 50% pupuk KIMIA

 

Tanaman Menghasilkan (TM)

TM 1 – 5 : 3,0 kg/pokok/th + 50% pupuk KIMIA
TM 6 – 10 : 4,0 kg/pokok/th + 50% pupuk KIMIA
TM > 10 : 5,0 kg/pokok/th + 50% pupuk KIMIA

Pupuk LCC cukup 100 kg per ha 1bulan setelah tanam

 

Teknik Aplikasi
Untuk pupuk lubang cukup ditabur didasar lubang (tidak perlu menggunakan pupuk KIMIA). Sedangkan untuk TBM dan TM ditaburkan dipiringan daerah perakaran aktif (feeding roots)

3. EBdec (Empty Bunch Decomposer) adalah dekomposer berbasis fungi aerobik termofilik yang diformulasi khusus untuk mendekomposisi janjang kosong (jangkos) kelapa sawit secara CEPAT, MUDAH dan MURAH.

CEPAT karena hanya membutuhkan waktu 5-7 minggu jangkos segar sudah bisa menjadi kompos berkualitas tinggi yang siap untuk dimanfaatkan oleh tanah dan tanaman.

MUDAH karena aplikasi sangat sederhana tidak memerlukan keahlian khusus dan dapat dikerjakan oleh masing-masing afdeling secara serempak, sehingga dipastikan seluruh kebun akan mendapat suplai bahan organik yang merata secara terus menerus sesuai prinsip keseimbangan ekosistem dimana semua biomasa yang dihasilkan tanaman akan kembali ke media tumbuhnya, dan dengan cara ini berarti upaya pemenuhan kecukupan C-organik dalam tanah akan selalu terjadi secara terus menerus sehingga akan memberikan jaminan kelangsungan kehidupan ekosistem mikroba yang membuat tanah subur dan sehat.

MURAH karena tidak memerlukan investasi peralatan khusus, lantai semen dll serta dalam operasionalnya tidak perlu dilakukan pengadukan dan pembalikan yang dapat menimbulkan biaya tinggi.

Catatan penting !!! C/N Ratio jangkos mentah sawit +/- 80 dan setelah komposting terjadi penurunan menjadi antara 30 – 40 sudah dapat dipanen dan diaplikasi di lapangan.

Komposting sebaiknya dikerjakan serempak oleh seluruh afdeling dengan batasan jumlah tonase jangkos sebesar 20% dari produksi TBS yang dihasilkan oleh masing-masing afdeling, dengan demikian komposting dapat dikerjakan tiap hari dan distribusi kelapangan juga dapat dilakukan setiap hari.

Jumlah tenaga kerja komposting dapat disiapkan secara tetap max 2 orang per Afdeling, sehingga ketrampilan komposting akan semakin baik, dengan demikian kepastian produksi kompos terjaga dan otomatis pemeliharaan bahan organik di lapangan juga terjaga baik.

 

Hasil Analisis Sampel Kompos Jankos dengan dekomposer Ebdec

 

Dosis anjuran
1. Pembuatan kompos jangkos
Untuk pengomposan 1 ton jangkos segar hanya dibutuhkan 10 kg Ebdec
2. Penggunaan hasil kompos
Untuk aplikasi kompos jangkos cukup 20 kg per pokok

Teknik Aplikasi
Taburkan Ebdec pada setiap lapisan bedengan jangkos setebal 15-20 cm sampai ketinggian susunan jangkos 80-120 cm, kemudian siram sampai kadar air mencapai +/- 60% dan tutup dengan terpal. Penyiraman diulang cukup 1-2 minggu sekali tergantung kelembaban, sedangkan lebar dan panjang bedengan disesuaikan dengan luas lokasi pengomposan.

 

REKOMENDASI PENGENDALIAN GANODERMA TERPADU

NOGAN

 

NURSERY

NOGAN di PN = 40g/pokok (di media tanam)
NOGAN di MN = 60g/pokok (di media tanam)
 

TANAM

NOGAN = 200g/pokok (di lubang tanam)
VERMIBIO plus = 1kg/pokok (di lubang tanam)
KOMPOS Jangkos = 5kg/pokok (di piringan)
 

TBM 1

NOGAN = 300g/pokok/th
VERMIBIO plus = 1,5kg/pokok/th + 50% KIMIA
KOMPOS Jangkos = 10kg/pokok/th
 

TBM 2

NOGAN = 300g/pokok/th
VERMIBIO plus = 2,0kg/pokok/th + 50% KIMIA
KOMPOS Jangkos = 10kg/pokok/th
 

TBM 3

NOGAN = 300g/pokok/th
VERMIBIO plus = 2,5kg/pokok/th + 50% KIMIA
KOMPOS Jangkos = 10kg/pokok/th

 

TM 1 – 5

NOGAN = 500g/pokok/th
VERMIBIO plus = 3kg/pokok/th + 50% KIMIA
KOMPOS Jangkos = 20kg/pokok/th
 

TM 6 – 10

NOGAN = 500g/pokok/th
VERMIBIO plus = 4kg/pokok/th + 50% KIMIA
KOMPOS Jangkos = 20kg/pokok/th
 

TM > 10

NOGAN = 500g/pokok/th
VERMIBIO plus = 5kg/pokok/th + 50% KIMIA
KOMPOS Jangkos = 20kg/pokok/th

 

Catatan penting !!!
NOGAN digunakan untuk memastikan musuh alami Ganoderma selalu tersedia dalam jumlah yang cukup sesuai keseimbangan ekosistem mikroba dalam tanah.

VERMIBIO plus digunakan untuk meningkatkan kapasistas tanah yang pada akhirnya akan meningkatkan efisiensi serapan hara oleh tanaman, dengan demikian penggunaan pupuk kimia otomatis akan menurun.

KOMPOS jangkos digunakan untuk memastikan seluruh biomasa yang dihasilkan oleh tanaman akan kembali ke tanah yang berarti akan menjaga kecukupan bahan organik tanah disamping penambahan nutrisi penting yang sangat berguna dalam menjaga kesehatan dan kesuburan tanah jangka panjang dan akan meningkatan efisiensi serapan hara tanaman dimana pada akhirnya akan menurunkan penggunaan pupuk kimia.

Orientasi penggunaan kompos jangkos jangan dilihat sebagai substitusi atau pengganti sebagian pupuk kimia dulu sehingga harus dengan dosis besar tetapi coverage area terbatas, namun orientasi harus lebih kearah pengembalian biomasa yang harus merata keseluruh lahan, karena efek jangka panjang dari perlakuan ini adalah mempertahankan dan meningkatkan kesuburan dan kesehatan lahan melalui perbaikan ekosistem mikroba dalam tanah.

Sedangkan orientasi menurunkan pupuk kimia harus diarahkan kepada upaya memperbaiki efisiensi serapan hara melalui upaya terpadu penggunaan NOGAN – VERMIBIO plus – KOMPOS dengan target peningkatan kapasitas tanah yang pada akhirnya akan berujung pada kesuburan dan kesehatan lahan lebih terpelihara.

Bogor, 8 November 2018
Team agronomi PT MITRA SUKSES AGRINDO