A. Mencari penyebab dari GEJALA penyakit
Dengan munculnya banyak gejala penyakit BPB dari mulai stadium ringan, sedang sampai berat seperti pada gambar diatas, maka sudah sangat jelas penyakit Busuk Pangkal Batang (BPB) ini disebabkan oleh jamur patogen Ganoderma boninense.
Oleh karena itu upaya penanggulangannya adalah :
– Mencari keberadaan Ganoderma dan membunuhnya
– Merusak atau memusnahkan tempat tinggal (sumber inokulum) Ganoderma
– Menjauhkan tanaman dari sumber inokulum Ganoderma
– Menekan sedapat mungkin keberadaan vektor (pembawa) spora Ganoderma
Dari analisis ini menghasilkan berbagai metode pengendalian sebagai berikut :
1. Sanitasi Sumber Inokulum
Inti dari metode ini adalah mengeluarkan, menghancurkan dan menjauhkan sumber inokulum dari titik tanam. Sumber inokulum tersebut pada kegiatan replanting adalah bonggol, batang dan akar sawit . Sedangkan pada pembukaan areal baru adalah batang dan tunggul-tunggul kayu karet, kelapa dan kayu hutan lainnya. Penghancuran sumber inokulum ini bisa menggunakan excavator (untuk pembongkaran bonggol dan tunggul dan kemudian dirajang) dan tractor (untuk mengangkat semua akar yang ada digawangan tanaman sawit).
2. Penimbunan Pangkal Batang (Mounding)
Pangkal batang tanaman dikupas dan ditimbun hingga 0,75 cm dengan tanah diluar piringan dan kemudian dipadatkan. Cara ini akan menghasilkan akar-akar baru sehingga tanaman tidak mudah tumbang, tindakan ini hanya mengurangi sumber inokulum dan menunda kematian sampai 2-3 tahun.
3. Pembuatan Parit Isolasi
Parit isolasi dibuat dengan tujuan memutus kemungkinan penularan dari akar yang sakit kepada akar yang sehat, inti dari tindakan ini adalah sama yaitu mengurangi dan menjauhkan sumber inokulum Ganoderma, dan ini hanya bisa menunda kematian saja.
image
4. Pengobatan Kimiawi
Berbagai bahan aktif telah banyak dicoba untuk membunuh Ganoderma, namun yang dianggap efektif adalah fungisida berbahan aktif Hexaconazole. Cara ini hanya efektif untuk pengobatan individu tanaman dan tidak mampu mencegah ledakan spora Ganoderma ke tanaman yang lain.
5. Pengendalian dengan Agensia Hayati
Pemberian Trichoderma telah dilakukan namun terbatas kepada tanaman yang sakit, sementara tanaman yang dianggap masih sehat tidak diberi perlakuan, sehingga pada periode tahun berikutnya tanaman yang sebelumnya sehat akhirnya terserang juga. Sedangkan yang sudah diaplikasi Trichoderma terhadap tanaman sakit ternyata tidak semuanya recovery tetapi tetap mati dan tumbang.
B. Mencari penyebab dari SUMBER penyakit
Sepintas mungkin sama-sama mencari sebab timbulnya suatu penyakit, tetapi ada perbedaan esensial antara mencari sebab GELAJA penyakit dengan mencari sebab SUMBER penyakit, dan hasil analisis ini akan menghasilkan metode pengendalian yang berbeda.
Kalau melihat trend serangan Ganoderma yang terus meningkat, maka analisis dengan pendekatan mencari sebab GEJALA penyakit yang pada akhirnya menghasilkan beberapa metode pengendalian yang hanya fokus kepada upaya menghancurkan dan menjauhkan sumber inokulum adalah tidak cukup. Trend kenaikan serangan dapat dilihat pada grafik dibawah :
Sumber : PPKS (2014)
Apabila pendekatan analisis kita lanjutkan dengan mencari sebab SUMBER penyakit, maka akan muncul pertanyaan sbb :
“Apa yang menjadi SEBAB UTAMA meningkatnya populasi jamur patogen Ganodema ???”
Dalam perspektif ekosistem dapat dijelaskan dengan mudah apabila terjadi “ledakan” hama dan penyakit berarti terjadi ke-tidak seimbangan agro ekositem. Dalam kasus penyakit Busuk Pangkal Batang (BPB) akibat serangan Ganoderma sudah banyak disampaikan dalam seminar maupun pertemuan praktisi sawit bahwa kondisi tanah perkebunan sudah mengalami degradasi, bahkan direktur Ganoderma Center Bogor dalam beberapa kesempatan menyebut bahwa sebab utama kasus Ganoderma di perkebunan sawit adalah karena TANAH sudah SAKIT.
Sehingga menjadi jelas sebab SUMBER penyakit adalah KESEHATAN TANAH yang tidak baik, salah satu indikasinya terjadi ke tidak seimbangan antara populasi jamur patogen Ganoderma dengan jamur yang menjadi musuh alaminya yaitu Trichoderma atau lebih tepat disebut tanah yang terinfeksi sudah DEFISIT musuh alami.
Problem lain seperti penurunan bahan organik tanah, KTK tanah, kekerasan tanah dan parameter kesuburan tanah yang lain juga perlu medapat perhatian yang serius dari para Planter dan pemilik kebun apabila sudah SEPAKAT bahwa sumber penyakit berasal dari tanah yang tidak sehat.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keagagalan pengendalian Ganoderma seperti terlihat pada grafik diatas disebabkan karena metode pengendalian tidak menjawab penyelesaian SUMBER penyakit yaitu perbaikan kesehatan tanah. Kalaupun pengendalian terpadu sudah dilakukan bersama penggunaan agensia hayati, tetapi karena hanya ditujukan kepada tanaman atau lahan yang diduga terinfeksi sehingga dampaknya tidak signifikan, bahkan tahun berikutnya tanaman yang sebelumnya dinyatakan sehat tetap terserang.
Menjadi sangat jelas perbedaan analisis mencari sebab GEJALA dengan sebab SUMBER penyakit akan menghasilkan fokus tindakan yang berbeda. Contoh tindakan pemberian agensia hayati yang berbeda akibat kedua pendekatan analisis tersebut adalah sbb :
1. Analisisis mencari sebab timbulnya GEJALA penyakit
Dengan pendekatan ini sebab utama munculnya gejala penyakit BPB adalah Ganoderma, maka agensia hayati Trichoderma HANYA diberikan kepada sumber inokulum diwilayah tanaman yang terinfeksi (parsial), sementara di wilayah tanaman yang masih sehat tidak diberi perlakuan pemberian agensia hayati tersebut.
Dengan demikian sering dijumpai yang diberi perlakuan Trichoderma belum berhasil sempurna, tetapi tahun berikutnya tanaman yang masih sehatpun mulai terjadi serangan Ganoderma dan seterusnya, ini yang kemudian sering membuat panik dan putus asa karena merasa Ganoderma sulit diatasi, dan ini terbukti dari grafik diatas.
Tanaman yang sudah diberi perlakuan Trichoderma pun apabila infeksi sudah dibatang, maka penyakit tidak akan bisa disembuhkan, kecuali infeksi masih di perakaran maka dengan pemberian musuh alami (Trichoderma), serangan akan tertahan dan tidak berlanjut ke batang sehingga tanaman masih bisa recovery. Hal ini disebabkan Trichoderma hanya dapat “bertarung” didalam perakaran tanah dan tidak masuk kedalam batang. Hal ini dapat dijelaskan karena makanan Ganoderma adalah lignin baik diakar maupun dibatang, sementara makanan Trichoderma adalah bahan organik yang ada didalam tanah dan bukan akar atau batang tanaman sawit.
2. Analisis mencari sebab SUMBER penyakit
Pendekatan ini menghasilkan pemikiran sebab utama penyakit adalah TANAH yang defisit musuh alami (Trichoderma). Oleh karena itu pemberian agensia hayati Trichoderma akan diberikan justru dengan prioritas seluruh tanaman yang sehat, sedangkan untuk tanaman diwilayah terinfeksi bisa dinaikkan dosisnya agar serangan yang masih di perakaran bisa segera pulih, sementara infeksi yang sudah masuk kebatang kematian nya dapat ditunda lebih lama. Sedangkan pada kegiatan replanting, Trichoderma WAJIB diberikan mulai dari pembibitan, lubang tanaman dan perawatan tanaman.
Bahkan tindakan dari analisis ini tidak berhenti hanya sampai perlunya pemberian musuh alami di tanaman yang sehat tetapi evaluasi total terhadap kesehatan dan kesuburan tanah akan dilakukan khususnya untuk perbaikan bahan organik tanah dan efisiensi serapan hara tanaman. Dalam periode jangka panjang apabila tindakan ini dilakukan maka keseimbangan ekosistem terjaga termasuk ketersediaan musuh alami dan peningkatan efisiensi serapan hara akan menurunkan penggunaan pupuk kimia tanaman.
Konsekuensi lain dari pemikiran ini akan memaksa perlunya satu bagian atau divisi dalam organisasi kebun yang tugasnya menjaga dan meningkatkan kesehatan dan kesuburan tanah yang merupakan aset terpenting perkebunan kelapa sawit. Bagian ini harus diisi SDM yang mempunyai disiplin ilmu tanah yang tugasnya adalah memonitor kondisi kesehatan dan kesuburan tanah kebun dan melakukan upaya-upaya perbaikan dengan bekerjasama dengan pihak pakar baik dari akademisi maupun litbang setempat.




