Pekerjaan sebagai petani sudah mulai ditinggalkan anak muda sekarang, tidak lagi menarik, tidak bergengsi dan terutama tidak menghasilkan banyak uang. Bahkan orang tuanya juga tidak lagi menyarankan anaknya untuk jadi petani, lebih baik cari kerja yang lain. Kerja bangunan atau jadi pelayan toko misalnya. Seakan sudah terpatri dipikiran kebanyakan orang bahwa petani tak mungkin kaya.

 

MUNGKINKAH PETANI KAYA?

Sebuah ilustrasi sederhana dengan logika terbalik mengenai kehidupan sebagai petani. Upah minimum regional (UMR) misalkan 2.500.000 per bulan / 25 = 100.000 per hari. Bagaimana caranya petani bisa dapat uang 100.000 per hari?

Pilihan jatuh pada budidaya pisang yang mudah dan berkelanjutan. Pisang dari mulai tanam sampai bisa dipanen butuh waktu 12 bulan. Korelasi dengan UMR, penghasilan dari panen pisang haruslah sebesar 12 bulan x 2.500.000 per bulan = 30.000.000 per tahun

Dari satu batang pisang bisa panen rata-rata 14 kg x @ 5.000/kg = 70.000. Target penghasilan 30.000.000 dibagi target penjualan per batang 70.000 diperoleh jumlah batang pisang yang ditanam adalah 430 batang. Dengan jarak tanam 2,5 m x 2,5 m = 6,25 m2 dibutuhkan lahan seluas 2.700 m2 (=430 x 6,25). Punyakah lahan seluas ini?

Selanjutnya dibahas mengetahui alokasi waktu petani untuk merawat lahan 2.700 m2 dengan tanaman pisang 430 batang.

  • kemampuan tanam pisang mulai dari mencari bibit + gali lobang + tanam = 20 batang per harinya. Untuk menanam 430 batang pisang, butuh waktu 22 hari.
  • Pembersihan lahan tiap 3 bulan sekali. Untuk lahan 2.700 m2 butuh waktu 6 hari x 4 ulangan = 24 hari.
  • Perawatan pohon pisang dilakukan 1 minggu sekali, mulai usia 3 bulan (untuk 9 bulan kedepan), sehingga butuh alokasi waktu 36 hari.

Total alokasi waktu budidaya pisang = 22 + 24 + 36 = 82 hari (setara 3 bulan).

Dari jangka waktu 12 bulan untuk panen pisang, alokasi waktu untuk budidaya adalah setara 3 bulan, artinya ada waktu setara 9 bulan yang dapat dimanfaatkan untuk aktivitas budidaya lainnya.

Dengan logika sederhana, jika budidayanya ditambah 3x dari saat ini, artinya tanam pisang 4 x 430 batang = 1.720 batang dan luas lahan 4 x 2.700 m2 = 10.800 m2, maka potensi pendapatan perbulan juga ikut naik 4 x 2.500.000 = 10.000.000.

 Keunikan budidaya pisang, pada tahun kedua anakan sudah tumbuh sendiri dari bongkol pisang indukan, sehingga tidak perlu keluarkan tenaga untuk tanam. Pada tahun ke-2 dan seterusnya bisa dilakukan 2-3x panen per rumpun batang (untuk faktor perhitungan bisa dipakai angka 2,5x panen). Pendapatan petani ditahun ke-2 bisa naik 2,5x nya menjadi 25 juta/bulan.

Bagaimana dengan biaya pupuk? Biaya herbisida? Insektisida? Fungisida? dll yang belum masuk hitungan. Semua dilakukan secara alami.

  • Pupuk à kompos
  • Herbisida à penyiangan dan pangkas manual
  • Insektisida dan fungisida à secara alami

Pemikiran sederhana seorang petani owner kebun pisang, untuk budidaya pisang tidak perlu biaya, hanya perlu pengorbanan tenaga, pikiran, waktu dan keringat.

 Permasalahan utama petani adalah ketidaktersediaan lahan dengan luasan yang memadai (contoh diatas adalah 10.800 m2). Untuk beli lahan jelas tidak memungkinkan. Bagaimana dengan sewa lahan? Jika harganya sesuai bisa dijadikan alternatif solusi. Cara lain adalah dengan kerjasama bagi hasil dengan pemilik lahan, bisa 40% pemilik lahan : 60% petani atau 50 : 50.

 

MUNGKINKAH PETANI BAHAGIA?

Sekilas bayangan petani adalah tampilannya lusuh dan kulitnya legam, kelihatan ketenangan dalam sorot matanya dan pandangannya jauh kedepan. Yup. kebanyakan petani memiliki sifat sabar dan berpikiran jauh kedepan, terbentuk karena masa menunggu (gestiod period) dari mulai menanam sampai panen. Ditambah sifat ikhlas, menerima hasil panen setelah merawat tanamannya semaksimal yang dimampu. Petani menyebutnya, ini rezeki dari Sang Pencipta pada periode panen sekarang. Mudah – mudahan periode panen depan hasilnya lebih baik, kita berdo’a kepada Yang Kuasa.

Kebahagiaan tidak hanya dinilai dengan uang.

  • Ketika menanam pisang, muncul dipikiran sebuah harapan 12 bulan lagi tanamannya bisa dipanen.
  • Ketika merawat tanaman, muncul dipikiran kepedulian pada sesama makhluk hidup. Tanaman ini dirawat baik – baik, mudah mudahan juga hasil panennya baik.
  • Ketika panen, muncul dipikiran panennya baik bisa untuk dikonsumsi keluarga. Lebihnya baru dijual. Beda rasanya menikmati hasil panen dari budidaya sendiri. Setiap suapan terbayang jerih payah merawatnya sampai bisa dipanen.
  • Ketika dijual, muncul dipikiran hasil panennya melimpah. Kebutuhan konsumsi keluarga tercukupi. Mudah mudahan bisa bantu mencukupi kebutuhan konsumsi orang lain.

Pun ketiga gagal panen, tidak ada satu pihak pun yang akan disalahkan. Yang ada instropeksi diri, apakah ada kesalahan yang saya dilakukan pada Sang Pencipta, sehingga saya diberi cobaan oleh-Nya.

Petani bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan mensyukuri apa yang diberikan Sang Pencipta melalui hasil panennya. Kebahagiaannya apabila bisa membagikan sebagian hasil panennya kepada tetangganya.