Sekarang ini zamannya internet, setiap orang terhubung melalui internet, salah satunya melalui aplikasi whatsapp (WA) yang fenomenal terutama di Indonesia. Walaupun ada media chat sejenis seperti Facebook Messenger, Line, Discord, Imo, Skype, Signal, KIK, Band, Slack, Telegram, Snapchat, Viber dan lainnya. Banyak juga ya aplikasinya sejenis. Ada yang menginstal satu aplikasi whatsapp saja, ada juga yang instal aplikasi lainnya seperti line atau telegram. Akhirnya percakapan terbanyak berasal dari aplikasi whatsapp tergantung kesamaan dengan aplikasi lawan bicaranya.

 

LEDAKAN WA GROUP

Sebelum pandemi covid 19, group WA yang ada di HP bisa dihitung dengan jari, karena ketemuan tatap muka masih sangat mudah dilakukan. Koordinasi pekerjaan dilakukan tatap muka, koordinasi kegiatan organisasi juga tatap muka. Klo pun ada percakapan dilakukan via japri, bukan di WA group.

Begitu berjalan +/- 1,5 tahun pandemi covid 19 di Indonesia, sejak april 2020 sampai saat ini agustus 2021, ketemuan tatap muka sangat terbatas, sosial distancing, work from home (WFH), school from home (SFH), business from home (BFH), organization from home (OFH), friendship from home (FFH), pokoknya semua menggunakan media online non tatap muka. Terjadilah ledakan WA Group. Coba cek di HP masing – masing, berapa jumlah WA Group yang ada saat ini?

 Hari ini bertambah 2 lagi WA Group di HP, sebelumnya 101 WAG menjadi 103 WAG. Apalah daya semuanya perlu.

  • WAG terkait keluarga inti dan keluarga besar
  • WAG terkait pendidikan anak, baik sekolah, tempat kursus dll
  • WAG terkait lingkungan tempat tinggal dari RT, RW, pengajian dll
  • WAG terkait pekerjaan, rekan kerja dan karyawan ditempat kerja
  • WAG terkait jaringan kerja (network) dan para stakeholder
  • WAG terkait latar belakang pendidikan formal, mulai teman kuliah, teman SMA, teman SMP, teman SD, teman TK jika masih ingat.
  • WAG terkait pendidikan non formal seperti tempat pelatihan/ kursus dll
  • WAG terkait organisasi atau komunitas yang diikuti
  • WAG terkait anak didik atau lembaga yang dibina.
  • WAG nostagia yang isinya best friends

Semua komunikasi ini dilakukan via WA Group setiap hari setiap saat. Padahal waktu kita sehari semalam dibatasi hanya 24 jam. Tinggal pintar – pintar membagi waktu untuk mengakses dan membaca WA tersebut.

 

SILENT READER dan SEPI NYA WA GROUP

Sebelum pandemi covid 19, meluangkan waktu membaca WA ini masih menyenangkan. Setelah 1,5 tahun covid 19, terlihat banyaknya WA Group yang sepi dari postingan chat selama berhari hari. Pada kemana anggota groupnya? Kok pada jadi silent reader semua? Pada sibuk dengan urusannya masing – masing. Tak sempat lagi menyapa anggota groupnya.

Disaat merasa ada aktivitas lain yang lebih penting dibandingkan membaca WA, maka silent reader menjadi pilihan. Yup, aktivitas untuk bertahan hidup (survive). Kita tidak hanya bicara bertahan hidup dalam artian pemenuhan kebutuhan ekonomi, tapi juga kebutuhan psikologi, kebutuhan eksistensi diri, kebutuhan sosial dll. Membaca WA seperlunya saja.

Saking banyaknya WA Group, memori HP yang terbatas membuat HP jadi hang, tidak respon (not responding), harus direstart ulang. Beberapa trik dilakukan seperti clear chat, non aktifkan auto download, clear database whatsapp dan lainnya. Kiriman berupa gambar / video / rekaman suara yang tanpa narasi pengantar cenderung tidak didownload. Daripada memenuhi memori HP nantinya.

Pesan yang dikirim di WA Group cenderung tertimpa pesan lain dari anggota group. Terkadang jumlah pesan yang belum terbaca menjadi ratusan pesan di satu group saja. Apakah kita masih mau membaca ratusan pesan ini satu per satu? Jawabnya pasti tidak. Ratusan pesan ini hanya dilihat sekelebat mata saja. Jika ada pesan yang panjang barulah stop sebentar untuk melihat substansinya, bukan untuk membacanya. Jika tidak penting langsung skip dan scroll lagi kebawah. Pada kondisi ini, untuk suatu pesan penting, lebih baik japri ke masing – masing anggota group, seperti info link untuk pertemuan via zooma atau pengingat kegiatan di Group.

 

MENDAPAT MANFAAT DARI WA GROUP

Dari banyaknya WA Group yang diikuti, bagaimana mendapatkan manfaatnya? Jawabnya adalah menjadi subjek bukan objek, menjadi pelaku informasi bukan hanya penerima informasi, terlibat aktif dalam Group.

 Perlu kesepakatan bersama dari anggota yang bergabung mengenai tujuan dibentuknya group, biasanya tercantum dalam deskripsi group. Kecocokan deskripsi group dengan keinginan pribadi bergabung akan memicu semangat untuk bisa aktif dalam group. Sebaliknya, seseorang dapat keluar (left) dari group karena pertimbangan:

  • Keinginan pribadi tidak lagi cocok dengan deskripsi group
  • Percakapan didalam group tidak lagi sesuai dengan deskripsi group
  • Ada ketidakcocokan dengan anggota di group

Selama masih merasa ada kecocokan, maka anggota bisa bertahan, minimal sebagai silent reader.

Perlu adanya penunjukkan beberapa orang admin yang mengatur alur percakapan di Group agar tetap fokus pada deskripsi group, tidak melebar ke percakapan lain, tidak menyinggung SARA (Suku, Adat, Ras, Agama) dan tetap berpegang pada norma kesusilaan dan norma hidup bermasyarakat. Hal unik sekarang ini, semua anggota di WA group pertemanan dijadikan Admin sehingga tidak ada regulator yang mengatur jalannya group. Admin dapat berperan dalam memancing suasana group agar tetap hidup seperti dengan memposting kuesioner, polling anggota dan cara lainnya untuk mendapatkan respon anggota group. Berapa % anggota group yang merespon?

Menjadikan group sebagai tempat jual ide, jual pemikiran, jual pengalaman, jual pengetahuan atau update informasi yang dialami oleh anggota. Bukan hanya forward pesan dari group sebelah. Semangat untuk berbagi perlu disepakati bersama. Ada baiknya admin group mewajibkan setiap anggota untuk posting sesuatu di group sesuai kemampuannya. Anggota lain jadi berharap, menunggu dan memberikan komen atas postingan dari sesama anggota. Bisa berupa quote, bisa berupa kata – kata mutiara, bisa berupa kisah inspirasi, bisa berupa ide kreatif. Pada intinya setiap anggota mau berbagi peran dalam Group.

Oleh sebab itu, anggota group sebaiknya berisikan orang – orang yang memang berkeinginan kuat gabung di group tersebut. Mendapat informasi dan manfaat dari keberadaan group, sekaligus memberi informasi dan manfaat kepada sesama anggota group. Anggota group tidak perlu banyak, yang penting adalah produktif.